- VIVA.co.id/Mohammad Zumrotul Abidin
Jalan Hidup
Dia sendiri tak pernah membayangkan akan memimpin kota terbesar di Indonesia itu. Saat lulus dari SMA Negeri 5 Surabaya, dia diminta orangtuanya kuliah di jurusan arsitektur, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS). Dia memendam cita-citanya sejak kecil ingin menjadi dokter, terinspirasi dari sakit asma yang diidapnya sejak kanak-kanak. Pertimbangan orang tua waktu itu sederhana, setelah lulus cepat bisa dapat pekerjaan. Ternyata benar, sebelum lulus dari ITS, dia sudah bisa bekerja mengerjakan proyek-proyek dari pemerintah kota.
Setelah lulus dari kampus yang mempertemukannya dengan pria yang kemudian menjadi suaminya, Djoko Saptoadji, itu, Risma mendaftar sebagai pegawai negeri sipil. Diterima, namun dia ditempatkan di Bojonegoro, Jawa Timur. "Baru setelah lima tahun berjalan, aku bisa pindah ke Surabaya," kata perempuan yang dilahirkan di Kota Kediri, Jawa Timur, 20 November 1961, itu.
Sebagai PNS, Risma pernah menjadi Kepala Seksi Tata Ruang dan Tata Guna Tanah di Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya, Kepala Seksi Pendataan dan Penyuluhan Dinas Bangunan, Kepala Cabang Pertamanan, Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan, dan puncaknya menjadi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bapekko).
Setiap ditempatkan di bidang apa pun, Risma berusaha menyelesaikan dengan baik. Saat menjadi Kabag Penelitian dan Pengembangan, dia menciptakan sistem online untuk lelang pengadaan barang dan jasa, tergolong yang pertama di Indonesia. "Sistem online ini bisa mencegah terjadinya praktik KKN, karena transparan bisa diakses semua orang," katanya.
Ketika menjadi Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Surabaya, dia berhasil mengubah wajah Kota Surabaya menjadi lebih hijau, bersih dan indah. Tiap pagi, dia keliling kota mengawasi langsung para pasukan kuning atau resminya petugas kebersihan membersihkan jalan.
Tak Kenal Politik
Saat menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan itulah orang-orang menggadang-gadangnya untuk menjadi calon wali kota. Akhirnya Risma maju menjadi calon wali kota, didampingi incumbent Wali Kota Surabaya Bambang DH yang sudah dua kali menjabat sehingga “mengalah” sebagai calon wakil wali kota. Pasangan ini didukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Pemilihan di tahun 2010 ini diikuti lima pasangan calon. Pemilihan ini melaju ke babak kedua; antara Arif Afandi-Adies Kadir yang diusung Demokrat dan Golkar melawan Risma-Bambang DH yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Babak kedua ini akhirnya sampai disengketakan di Mahkamah Konstitusi. MK memutuskan harus digelar pemilihan ulang di 5 kecamatan dan 2 kelurahan. Kemenangan Risma-Bambang DH tak terelakkan.
Risma tak pernah menyangka bakal menang karena pengalaman politiknya sedikit. “Sungguh, semua itu di luar perkiraanku. Tetapi sebagai bentuk tanggungjawab, aku harus menjalankan amanah yang diberikan masyarakat kepadaku," kata Risma.
Pada awal memimpin warga Surabaya, dia banyak merenung dan bertanya-tanya apakah dia sanggup memimpin Kota Surabaya yang terkenal keras, sementara dia hanya seorang wanita. Apalagi, belum apa-apa, di awal pemerintahannya, ia sempat diancam akan dilengserkan melalui hak angket DPRD Surabaya.
Memang, setelah dilantik 28 september 2010, Risma langsung tancap gas. Program pertama yang digenjotnya di bidang pendidikan. Risma berupaya agar biaya pendidikan di Surabaya sejak SD sampai SMA, gratis. Bantuan Operasional Siswa (BOS) yang hanya untuk tingkat SD dan SMP digenapkan sampai tingkat SMA. Dia juga melancarkan program Bantuan Operasional Pendidikan Dearah (Bopda), baik untuk sekolah swasta maupun negeri.
Dia juga menerapkan pemberian bantuan bagi anak tak mampu dengan kuota 5 persen per sekolah. Anak dari golongan miskin, selain bebas biaya pendidikan, juga mendapat bantuan pribadi. Tak ada alasan kurang biaya lagi bagi anak-anak Surabaya untuk tidak sekolah.
Setelah pendidikan dirasa aman, Risma kembali ke aktivitasnya sebelum menjadi wali kota: membenahi kota. Dia bertekad mengubah Kota Surabaya yang panas menjadi lebih asri dan manusiawi. Ruang terbuka hijau diperbanyak. Pemerintah Surabaya telah membebaskan 12 hektare lahan menjadi ruang terbuka hijau. Ada empat lapangan sepak bola dan sebelas lapangan futsal yang dibangun dalam setahun. Kini ada 98 ruang terbuka hijau yang terdapat fasilitas lapangan sepak bola dan futsal.
Dalam mengurangi genangan dan banjir, Risma rutin mengecek berapa lama genangan bertahan dan tingkat kedalamannya. Untuk pengelolaan sampah, dia mengajak masyarakat berpartisipasi memilahnya. Setiap kecamatan memiliki relawan green and clean untuk membudayakan memilah sampah. Sampah organik pun diolah menjadi pupuk kompos.
Pemerintah Kota mendorong warganya untuk menanam sayuran dengan mesin hidroponik. "Kami menyediakan bibit sawi, cabai dan tomat. Buat sayuran sendiri. Alhamdulillah, ini bisa mengontrol perekonomian warga karena di kota besar kebutuhan yang sering melonjak adalah sayur dan daging," ucapnya.
Untuk pembangunan drainase dan air bersih, Risma terus mengupayakan sumber daya lokal. Awalnya dia ditawari peranti lunak (software) untuk air mancur senilai Rp2 miliar oleh perusahaan Singapura, tapi dia tolak. Risma memilih buatan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya yang lebih murah.
"Bisa dilihat, di depan Balai Kota ada air mancur yang biasa dipakai anak-anak kecil mandi. Airnya bersih," katanya.