SOROT 340

Lian Gogali, Perempuan Agen Perdamaian Poso

Lian Gogali
Sumber :
  • www.facebook.com/lian.gogali
VIVA.co.id
img_title Mereka Perempuan Hebat Selain RA Kartini
- Sudah empat hari ini ibu-ibu di Kecamatan Poso Pesisir, Poso Kota dan Tentena, sibuk menggagas konsep pembangunan berbasis perdamaian. Mereka berdiskusi di sebuah balai desa sederhana, mengonsep bagaimana perempuan bisa terlibat aktif dalam pembangunan desa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


img_title Menteri Puan: Perempuan Garda Terdepan dalam Revolusi Mental

Ratusan ibu-ibu ini menyoroti pembangunan di Poso, paska konflik yang mendera daerah ini selama hampir dari satu dekade, hanya terfokus pada pembangunan fisik semata, tanpa memperhatikan pembangunan manusia dalam menciptakan perdamaian di wilayah itu.
img_title Rayakan Hari Kartini, Menteri Agama Ikut Lomba Masak


Diskusi siang itu berlanjut, para ibu juga mengkonsep naskah akademik peraturan daerah tentang perlindungan partisipasi perempuan dalam Undang-Undang Desa. Mereka ingin menjadi bagian aktif dalam proses pembangunan desa, yang selama ini kecenderungannya hanya melibatkan kepala desa, tokoh masyarakat maupun tokoh adat.

Peran aktif ibu-ibu di Poso ini tak lepas dari tangan dingin Lian Gogali. Wanita kelahiran Taliwan, 28 April 1978 silam, merupakan seorang aktivis perempuan yang bertekad membangun semangat perempuan-perempuan Poso, mengubah dari trauma ketakutan akibat konflik horisontal di Poso, menjadi sebuah kekuatan.

Ratusan ibu-ibu di Poso kini dapat lantang berpendapat, berkumpul atau bergaul dengan orang, sekalipun beda keyakinan. Sebelum ini, ketika konflik Poso masih berkecamuk, warga Poso saling benci, curiga dan menebar permusuhan satu sama lain. Tak ada yang berani lantang bersuara, apalagi berkumpul dengan orang yang beda keyakinan.

Lian mengubah cara pandang itu. Melalui Sekolah Perempuan Mosintuwu yang dia dirikan pada 2009 lalu, perlahan para perempuan yang merupakan murid di sekolah itu punya keberanian menyatakan pendapat. Mereka tak lagi takut duduk bersama, berkumpul bersama orang lain, meskipun beda keyakinan.

Lian paham betul akar permasalahan konflik sosial yang terjadi di Poso. Meskipun saat konflik itu terjadi, Lian tidak ikut merasakan, sebab saat kejadian dia tengah kuliah di Yogyakarta. Namun rumah keluarga Lian di Poso terkena imbas konflik tersebut. Rumahnya dibakar dan isinya dijarah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Pengalaman buruk itu yang membuat Lian bertekad meneliti, apa sebenarnya yang memicu konflik di Poso. Pada sekitar tahun 2003-2004, Lian memutuskan  melakukan penelitian di sejumlah tempat, termasuk pengungsian warga saat konflik Poso terjadi.
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut