- www.facebook.com/retno.listyarti
VIVA.co.id - Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) itu tampak ramai. Berlokasi di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, sejumlah orang tampak berkerumun di salah satu ruangan.
Mereka duduk berderet di kursi. Tidak sedikit yang berdiri sambil memanggul kamera. Sebagian lainnya sibuk dengan alat tulis dan gadgetnya.
Puluhan orang ini adalah para pekerja media. Siang itu, mereka mengikuti konferensi pers yang digelar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Temanya tentang bocornya soal Ujian Nasional (UN) tahun ini.
Suara perempuan terdengar keras dari depan kerumunan. Ia sedang menjelaskan perihal bocornya soal UN di sejumlah wilayah. Sesekali, perempuan berjilbab ini berdiri sambil tangannya menunjuk dinding ruangan yang disulap menjadi layar proyektor.
Nama perempuan ini adalah Retno Listyarti. Guru kelahiran Jakarta, 24 Mei 1970 ini merupakan Sekretaris Jenderal FSGI, sebuah organisasi guru. Siang itu, ia sedang membeberkan sejumlah kecurangan dalam UN tahun ini. Suaranya terdengar keras dan tegas, memecah kesunyian gedung YLBHI.
“Kami mendirikan posko pengaduan UN dan mendapat banyak laporan terkait kecurangan UN,” ujarnya, Rabu, 15 April 2015.
Retno mengatakan, organisasi yang ia pimpin sangat peduli dengan UN. Sebab, meski tidak menjadi penentu kelulusan, UN masih menjadi pertimbangan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Akibatnya, siswa menganggap UN menjadi segala-galanya.
“Atas nama nilai, prestise sekolah dan daerah, terjadilah penghalalan segala cara,” ujarnya kepada VIVA.co.id.
Menurut dia, hal itu akan membuat siswa "belajar" tidak jujur. “Kalau dibiarkan, hal ini akan membahayakan masa depan bangsa. Karena, generasi muda tak memiliki karakter jujur,” ujar Kepala SMA Negeri 3 Jakarta Selatan ini.
Aktivis Pendidikan
Jagad pendidikan di Tanah Air sudah tak asing dengan nama Retno Listyarti. Penerima penghargaan Internasional Toray Foundation, Jepang, dalam bidang sains ini dikenal sebagai guru yang kritis. Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), Uji Kompetensi Guru (UKG), dan Ujian Nasional (UN) merupakan sejumlah kebijakan pemerintah yang ia kritisi.
Selain kritis, Retno merupakan guru yang rajin menulis. Sejak menekuni profesinya sebagai guru, ia sudah menghasilkan banyak tulisan.