- VIVA.co.id/Mohammad Zumrotul Abidin
Tempaan Masa Kecil
Di balik kiprahnya sebagai Wali Kota Surabaya, ibu dua anak ini memiliki kisah hidup yang cukup menarik. Ririn, nama kecilnya, dibesarkan di tengah keluarga yang berkecukupan secara ekonomi. Ririn merupakan anak ketiga dari lima bersaudara buah perkawinan pasangan M. Chuzaini dan Siti Mudjiatun.
M Chuzaini, ayah Risma, adalah PNS di kantor pajak. Di sela-sela kesibukan sebagai PNS, ayahnya juga memiliki usaha sampingan memasok bahan-bahan pokok seperti beras, gula, dan jagung. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Risma sudah diajarkan kegiatan ekonomi dengan dilibatkan dalam usaha dagang toko kelontong milik keluarganya itu.
"Bapak sering memintaku membantu menghitung pemasukan dan pengeluaran barang di toko, mengantar barang-barang ke pelanggan naik becak, dan masih banyak lagi," kata Risma.
Risma menyebut ibunya seorang yang lembut, sementara bapaknya seorang yang keras dan berdisiplin tinggi. Ayah Risma juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Ayahnya menyiapkan satu rumah khusus untuk dijadikan tempat tinggal sekitar 40-50 anak yatim-piatu.
"Anak-anak ini sehari-harinya diasuh Bapak. Bersama mereka pula aku berkumpul dan bermain setiap hari," katanya.
Namun Risma sakit-sakitan saat kecil sehingga tidak banyak bermain layaknya anak-anak pada umumnya. Salah satu penyakit yang paling menganggunya adalah asma. Dia tak boleh terlalu capek agar penyakit asmanya tak kambuh.
Namun, Risma tak mau larut dengan penyakit asma yang dideritanya. Dia justru menyibukkan diri dengan kegiatan yang mengutamakan kemampuan fisik seperti menari dan atletik. Berkat keseriusan berlatih tari, Risma memiliki kemampuan menari di atas rata-rata anak-anak lain. Ketika masih duduk di kelas 3 SD, dia sudah bisa melatih kakak-kakak kelasnya menari.
"Tak hanya itu, di waktu-waktu tertentu aku kerap menerima undangan menari di berbagai tempat di Kediri, misalnya mengisi acara 17 Agustus-an," katanya.
Saat di SMA 5 Surabaya, Risma sibuk berlatih atletik. Pernah dalam satu perlombaan lari, dia mendapat peringkat dua hanya kalah dari Heny Maspaitella yang kemudian terus meroket jadi pelari nasional. "Bahkan ketika bersekolah di SMAN 5 Surabaya, pihak sekolah sampai memberikan dispensasi khusus dan memperbolehkan aku masuk kelas jam 10.00, karena pagi harinya aku harus berlatih lari terlebih dahulu," Risma.
Risma mampu mengatasi penyakit asmanya karena suka naik gunung saat menjadi mahasiswa. Selain suka naik gunung, ketika masih duduk di SMAN 5 Surabaya, dia merupakan atlit lari andalan Kota Surabaya.
Risma dan Keluarga
Risma dikaruniai dua anak, Fuad Nenardi dan Tantri Gunarmi. Dalam mendidik anak, Risma dan suaminya menerapkan disiplin tinggi juga prinsip kejujuran. Selama menjadi walikota Surabaya dia mengaku, hubungan dengan keluarga dia jaga dengan kualitas komunikasi.
"Anak-anak saya sudah biasa. Yang penting kualitas komunikasi selalu dirawat. Sejauh apapun jarak, komunikasi selalu intens. Kalau di rumah saya godain," katanya.
Dia juga sadar memang tidak bisa seperti rumah tangga yang lain. "Ini pilihan. Saya pun tidak memilih untuk jadi seperti ini," katanya.
Saat dia bimbang, suaminya selalu memberi semangat untuk terus maju karena kesempatan membantu orang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. [aba]