- VIVA.co.id/Mohammad Zumrotul Abidin
Menurutnya, tugas polisi merupakan amanah negara yang sudah termaktub dalam ilmu Agama. Wajar dia bias mengatakan demikian karena Wazir mahir berbahasa arab dan punya ilmu menafsirkan Alquran.
Ketertarikannya mengabdi di dunia pesantren sekaligus sebagai polisi, karena dia besar dan tumbuh di lingkungan keluarga santri, sehingga dia merasa mengajar bukan pekerjaan, melainkan kewajiban. "Saya lebih konsen pada pendidikan sore dan malam hari. Itu saja kalau sedang tidak ada dinas luar dan mendadak,” kata pria kelahiran Demak, 28 Februari 1968 ini.
Selain mengajar santri, dia juga menjadi dosen terbang untuk mata kuliah olah TKP di sejumlah perguruan tinggi. Hanya saja dosen tamu ini tak sesering mengajar di pesantren yang bisa dibilang hamper tiap hari.
Selama 20 tahun lebih berstatus polisi dan kiai, Wazir mengaku respons masyarakat terhadapnya tak semudah membalikkan telapak tangan. Pemahaman miring masyarakat terhadap polisi kerap menjadi tantangan yang harus dijawab. Sorotan negatif publik mengenai profesi polisi ini bahkan menjadi pekerjaan yang penuh perjuangan untuk memberi pemahaman kepada mereka.
"Sebenarnya kalau disikapi dengan benar, profesi polisi itu penuh pahala.”
Cibiran masyarakat yang menilai negatif profesi polisi diakuinya sering dialamatkan kepadanya. Namun, hambatan itu ia jawab dengan sikap dan teladan.
Khususnya melalui pendidikan yang kerap diajarkan. "Pada intinya bagaimana polisi harus membuktikan lewat gebrakan. Polisi harus jadi pelindung dan pengayom masyarakat. Bukan retorika dan teoritik dan slogan di jalan-jalan semata, " ujar dia.
Sebagai pegawai polisi dia bahkan tak pernah berharap memperoleh pendapatan lebih. Sebab tanggungjawab yang diemban tak sepadan dengan gaji. Tapi dia bias mensiasati dengan hidup sederhana. "Kalau mau jadi pegawai ya sederhana. Kalau ada polisi yang hidup berlebih, saya tidak tahu (itu uangnya dari mana),” kata Wazir yang kesehariannya menganalisa mayat melalui visum dan autopsi.
Dia tak malu mengendari sepeda motor saat berangkat dan pulang kerja, dari Semarang ke Mranggen, Demak. "Saya tak punya mobil. Hidup ini tak perlu mewah-mewah,” katanya.
Soal kesederhanaan ini, M Lutfil Hakim, salah satu santri di Girikusuma, kesederhanaan Wazir makin membuat kebanggan bahwa polisi sangat dekat dengan masyarakat. "Kalau di sini bapak jarang pakai seragam, dan hidupnya sangat sederhana. Pengetahuan agamanya luas," kata Lufil.
Menjelang 17 tahun reformasi Polri, Wazir memiliki secercah keinginan. Dari lubuk yang paling dalam ia berharap lembaga Polri semakin baik. Akselerasi Presiden Jokowi tentang reformasi mental bisa tertanam di hati para perwira Polri dengan tetap berpegang teguh pada Agama.
"Agama itu jadi titik sentral. Kalau polisi memahami agama dengan baik, maka tugas yang diamanahkan juga bagian dari ibadah,” katanya.