SOROT 343

Polisi-polisi Baik

polisi sorot
Sumber :
  • VIVA.co.id/Mohammad Zumrotul Abidin

polisi sorot

img_title Kapolri Minta Polisi Beri Pelayanan Maksimal ke Publik
Aiptu Wazir Arwani Malik selama 20 tahun lebih berstatus polisi dan kiai, Wazir mengaku respons masyarakat terhadapnya tak semudah membalikkan telapak tangan. Foto: VIVA.co.id/Dwi Royanto

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


2. Bhayangkara Pejuang Pendidikan

Dunia pendidikan nampaknya masih menjadi barang yang mewah bagi mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan. Meski berada di pinggiran ibu kota, nyatanya itu bukan jaminan bagi setiap warga mendapat pendidikan yang layak.

Ya, kasus ini ditemukan di kawasan Bojonggede Kabupaten Bogor, wilayah yang berbatasan langsung dengan Kota Depok yang notabennya masih berada di pinggiran Ibu Kota Jakarta.

Data yang dihimpun VIVA.co.id, dalam satu desa saja di kawasan ini ada 200 warga yang putus sekolah. Mereka kebanyakan warga Desa Kalisuren, Bojonggede. Namun belakangan, secercah harapan bagi mereka yang tak dapat menikmati bangku sekolah mulai tumbuh.

Harapan untuk meraih masa depan yang lebih baik itu dibawa oleh seorang anggota Polri yang sehari-harinya bertugas sebagai anggota Provost di Mapolsek Bojonggede, di bawah naungan Polresta Depok.

Sosok pria tegap, berwajah sangar dengan sorot matanya yang tajam itu adalah Aiptu Zakaria. Meski tampilannya terkesan gahar, namun jangan salah, pria yang menjabat sebagai Kasium Provost Polsek Bojonggede itu ternyata berjiwa sosial cukup tinggi.

Dia rela menyisihkan waktu luangnya demi memberi bekal pendidikan bagi mereka yang putus sekolah. Masuk kampung ke luar kampung dengan menggunakan motor butut satu-satunya, biasa dilakukan Bang Zak di sela-sela kesibukannya sebagai anggota Polri.

Yang menarik, dari sebagian besar muridnya yang rata-rata telah berusia dewasa dan remaja, bahkan ada Kepala Desa Kalisuren.

Bang Zak, akrab ia disapa, menuturkan, awal ketertarikannya dengan dunia pendidikan ketika pada 1990-an ia menjadi ketua komite sekolah di SD tempat sang anaknya. "Tadinya saya penjembatan antara orangtua murid dengan pihak sekolah,  banyak orangtua dan guru yang kebingungan tiap kali berurusan dengan dana," tuturnya.

Lantaran kerap bersentuhan langsung dengan para pendidik, Bang Zak pun mulai tertarik sebagai pengajar. Terlebih, ia banyak melihat kenyataan di desa tempatnya bertugas tak sedikit warga yang putus sekolah.

Dari situ, dia mulai menempuh pendidikan hingga akhirnya lulus S2 ilmu pendidikan. Setelah lulus, dia mulai mengajar. Dia rangkul mereka yang putus sekolah. “Saya memberi bekal pengetahuan di tempat apa adanya, biasanya di balai desa," tutur Bang Zak dengan senyum yang ramah.

Untuk mensiasati keinginannya membantu mereka yang membutuhkan pendidikan, Bang Zak membagi waktu tugasnya dengan sangat profesional. Waktu mengajar ia lakukan selepas piket atau saat dia libur.

Dalam sehari, Bang Zak bertugas 24 jam sebagai polisi. Esoknya, dia mendapat jatah libur. Pada hari itulah, dia mengajar ratusan anak putus sekolah.

Selain mengajar di tempat terbuka, Bang Zak juga aktif mengajar di sejumlah sekolah formal di Bojonggede. Ia juga dikenal baik dan selalu menjadi teladan bagi para siswa dan siswi yang ia datangi.

"Ya saya kalau ngajar tetap pakai seragam ini. Saya ingin memberikan pengertian sekaligus menjalankan cita-cita yang diemban Polri, yakni polisi sahabat anak," katanya sambil menghisap dalam-dalam rokok kretek.

Kepedulian Bang Zak yang mengabdikan dirinya penuh dengan dedikasi ini banyak mendulang dukungan. Tak hanya dari lapisan masyarakat, tapi juga dari teman satu korps. Namun sayang, apa yang dilakukan Bang Zak tidak selalu menuai buah yang manis.

Salah satunya, meski sudah mengantongi sarjana S2 dan mengabdikan diri lebih dari 27 tahun,  Bang Zak sampai saat belum juga mendapat kesempatan menjadi seorang perwira.

Hal itu disampaikan Ipda Bagus Suwardi, salah satu rekan kerja Bang Zak. Bang Zak sudah mendaftar Sekolah Inspektur Polisi (SIP) dan alih golongan lebih dari lima kali, namun sayang sampai saat ini belum juga lolos.

"Bang Zak itu senior saya saat di Bintara. Orangnya ya begitu itu, supel, perhatian dan sangat peduli dengan apa yang ada di sekitarnya,” kata Bagus.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Lembaga Ini Disebut Pengekang Kebebasan Berpendapat
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut