SOROT 343

Polisi-polisi Baik

polisi sorot
Sumber :
  • VIVA.co.id/Mohammad Zumrotul Abidin

polisi sorot

img_title Indri Giana Blak-blakan Tak Suka Ustaz Riza Muhammad Ngegym Pakai Baju Terbuka
Aiptu Zakaria kalau saat mengajar tetap pakai seragam polisi, ia ingin memberikan pengertian polisi sahabat anak. Foto: VIVA.co.id/Zahrul Darmawan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


3.  Sahabat Anak Pecandu Narkoba

Gayanya supel. Tidak menakutkan. Dan yang paling penting tidak neko-neko, sederhana. Dia bekerja rajin, lembut tapi tegas. Dia polisi tanpa kompromi. Dia adalah AKBP Suparti, Kepala Badan Narkotika  Kota Surabaya yang diangkat sejak Kamis 4 Desember 2014.

Duduk di jabatan ini, bagi Suparti adalah perjuangan berat. Meski lama menjadi polisi, tapi dunia narkoba di Surabaya merupakan masalah kompleks. “Saya mulai dengan menggali lebih dalam. Di situ saya nerima banyak problem, ternyata narkoba sudah menjadi gaya hidup,” tutur Suparti kepada VIVA.co.id, Kamis 7 Mei.

Menelusuri peredaran narkoba di Surabaya harus dimulai dengan kesabaran dan kelembutan mendekati para pemakai atau pecandu narkoba. Mengajak bicara, memberi kepercayaan kepada mereka, serta mengajak untuk sembuh adalah kunci utama perang dengan bahaya naerkoba.

“Dari pendekatan itu, informasi soal peredaran narkoba datang sendiri,”  katanya.

Suparti sering bergaul dengan para pecandu yang rata-rata masih duduk di bangku SMP. Mereka mengakui semua perbuatannya. Karena dia menjamin tidak akan menagkapnya. Bagi Suparti, targetnya bias direhabilitasi.

Namun sayang, lima bulan bekerja di BNN, Suparti mulai merasakan beratnya perang dengan narkoba. Mulai dari kantor, personel, hingga anggaran.  Kantor tidak punya, personel sangat kurang, dan anggaran cuma cukup untuk membiayai dua pertemuan dengan para pecandu saja.
 
Untuk mensiasati minimnya anggaran dan pegawai yang hanya 31 orang, Suparti harus menggunakan cara-cara di luar pakem. Dia memanfaatkan setiap kesempatan untuk berkampanye antinarkoba. Dia menggelar lapak di pinggir jalan dengan mambawa brosur, poster, buku saku, dan dummy obat.

Ketika anak-anak kecil mulai berkerumun, Suparti langsung langsung menggelar seluruh alat peraga. Dia ajak komunikasi. Setelah ditanya, ternyata anak-anak SD kelas 1 itu sudah ngerti banyak tentang jenis narkoba. Mereka bahkan ada yang memperagakan bagaimana peredaran narkoba dengan cara menanam ranjau.

“Mereka pernah menyaksikan ada serbuk putih dibungkus tisu, ditaruh di pot bunga di pinggir jalan,” kata peraih Kartini Award IWAPI Jawa Timur ini.

“Saya langsung beritahu dengan cara saya sendiri, ‘Ojo le, iku obat garai gendeng. Nek gendeng gak iso sekolah. Nek gendeng awakmu gak iso lapo-lapo (jangan nak, obat itu bikin gila. Kalau gila kalian tidak bisa sekolah dan tidak bisa apa-apa)’,”  ujar Suparti, menceritakan.

Dari data yang dikumpulkan BNN Surabaya, saat ini ada 400 pecandu. Usia termuda 12 tahun. Mayoritas peredaran narkoba menyasar anak usia SMP. Untuk usia SD, masih coba-coba. Dia juga terus berjuang agar tidak ada kampung narkoba di Surabaya. Saat ini ada 10 kampung yang harus diwaspadai. Dari jumlah itu, ada tiga kampung yang terus diamati. Karena di situ banyak pengguna.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Terpopuler: Andik Vermansyah Comeback ke Super League, Debut Igor Tolic di Persib Belum Meyakinkan
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut