- VIVA.co.id/Muhammad Zumrotul Abidin
![]()
Sejak 20 Juni 2013, para pengungsi Syiah Sampang berada di Rusun Puspa Agro. Sebelumnya mereka tinggal di GOR Sampang selama sembilan bulan. Foto: VIVA.co.id/Muhammad Zumrotul Abidin
“Kandang bebek”
Menggapai ilmu di pengungsian penuh dengan keterbatasan. Sebab, fasilitas pendidikan untuk anak-anak di pengungsian hanya disediakan tiga kelas.
Ironisnya, tiga ruang kelas itu untuk menampung pendidikan dari jenjang pendidikan usia dini hingga sekolah dasar kelas 6. Pendidikan SD di 6 tingkatan kelas dijadikan dua lokal. Sedangkan, PAUD dan TK jadi satu ruang.
Penampakan pendidikan sistem kelas ‘kandang bebek’ itu diperparah dengan hadirnya sumber daya manusia (SDM) yakni para guru yang disediakan pemerintah setempat. Para guru hanya mengajar seadanya dengan jam yang tidak rutin baik kedatangan maupun waktu mengajar.
Setiap hari cuma ada tiga guru. Kadang guru SD tidak datang, guru TK yang menggantikan. “Kadang ada yang mengajar cuma setengah jam, atau paling lama satu jam,” katanya.
Untuk pendidikan anak ini, mulanya Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mengusulkan untuk menggabungkan anak-anak pengungsi Syiah untuk sekolah SD di luar pengungsian. Namun, karena alasan keamanan, Pemerintah Provinsi Jatim tidak mengizinkan.
“Mereka benar-benar dibatasi. Ada dua anak, awalnya sekolah di SD sekitar sini. Karena waktu itu dia kelas 6 SD mau ujian, jadi disekolahkan di luar. Ternyata mereka dirisak [bully] oleh teman-teman. Dikatai 'sesat-sesat' begitu,” kata Muat Muhammad, Sekretaris Ahlul Bait Indonesia.
Tidak hanya itu, perpustakaan keliling yang saat pertama mereka mengungsi didatangkan pemerintah, kini sudah tidak ada. Hanya jika ada kunjungan dari pejabat pemerintah pusat baru perlengkapan itu dipajang di pengungsian.
“Kalau ada kunjungan menteri jadi lengkap semua. Ada mobil BPBD, ambulans, dan perpustakaan keliling,” kata Muat.
Untuk membantu kelangsungan pendidikan ini, para organisasi kemasyarakatan seperti Kontras telah mengupayakan bantuan pendidikan untuk anak-anak. Salah satunya Kontras bekerja sama dengan fakultas psikologi Universitas Surabaya untuk mengirim mahasiswanya membantu anak-anak.
“Ini sudah berjalan sebelum puasa. Selain pendidikan, mereka harus dipulihkan psikologisnya,” kata Koordinator Kontras Surabaya, Fatkhul Khoir.
Namun, yang jelas, mereka harus dikembalikan ke kampung halaman. Mereka ingin kembali hidup layak, tidak mau lagi bergantung pada bantuan. (ren)