- VIVA.co.id/Kusnandar
“Pembuat wayang harus mengenal karakter wayang. Musiknya juga harus mengenal itu, sehingga pas dalam suatu pementasan wayang, itu semua sudah saling memahami apa yang akan dilakukan,” Muhaimi menjelaskan.
Siswa yang belajar di sekolah ini tak harus menjadi seorang dalang. Menurut Muhaimi, peserta didik bisa memilih jurusannya masing-masing. Sebab, untuk masuk sekolah ini mereka juga harus melalui ujian.
Jika peserta didik tak memenuhi kriteria untuk menjadi dalang, dia tidak akan diarahkan untuk menjadi dalang. “Untuk jurusan pedalangan diajarkan nembang, mengenal karakter wayang, sejarah, gerakan memainkan wayang. Kami ajarkan semua. Karena anak–anak ini masih nol.”
Pendiri sekolah yang lain, Abdul Latif Apriaman (41) menambahkan, pendirian Sekolah Pedalangan Wayang Sasak berawal dari diskusi di komunitas serta pegiat budaya di NTB. Berangkat dari rumusan dan pecakapan di komunitas, maka didirikanlah sekolah tersebut.
"Sekolah ini akan menjawab pertanyaan kenapa Wayang Sasak mulai ditinggalkan,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 7 Juli 2015.
Ia mengatakan, salah satu penyebab menurunnya peminat Wayang Sasak adalah terkait bahasa. Sebab, bahasa yang digunakan Wayang Sasak adalah huruf Jawen.
Sementara itu, saat ini hampir seluruh anak muda tak mengerti bahasa tersebut. Masyarakat juga tidak paham dengan bahasa yang digunakan dalang saat mementaskan wayang.
![]()
“Melalui wayang, ini alternatifnya yang akan kami cari, pertunjukan wayang alternatif. Kami tidak bisa biarkan wayang tetap bertahan dengan pola yang lama, sedangkan perkembangannya mulai terkikis,” ujar jurnalis salah satu media nasional ini.
Latif menjelaskan, Wayang Sasak berbeda dengan wayang kulit dari daerah lain. Menurut dia, yang membedakan Wayang Sasak dengan wayang jenis lain terutama dari tema ceritanya. Wayang Sasak membawa cerita menak, cerita tentang kerajaan Islam.
Sementara itu, wayang lain menceritakan Ramayana atau Mahabarata. “Kalau Wayang Sasak itu tokoh-tokoh yang diceritakan tokoh Islam dan penyebaran Islam di Lombok,” dia menambahkan.
Uniknya, meski wayangnya bertemakan Islam, ada beberapa dalang tua legendaris yang memainkan wayang ini beragama Hindu.