SOROT 354

Merawat Jejak Wayang Sasak

Kegiatan di Sekolah Pedalangan Wayang Sasak
Sumber :
  • VIVA.co.id/Kusnandar

“Melalui sekolah dalang ini, kami tonjolkan tentang literatur Wayang Sasak itu seperti apa. Anak anak sekolah itu jadi tahu Wayang Sasak itu seperti apa, belajar Wayang Sasak untuk apa, baru kemudian mereka akan mencari formula untuk tetap menghidupkan Wayang Sasak dengan model yang baru,” ujarnya.

img_title Wayang, Media Efektif Membangun Jati Diri Bangsa

Bantuan Pemerintah

Latif mengatakan, sejauh ini belum ada bantuan dari pemerintah. Menurut dia, orang-orang yang aktif dalam pendirian dan pengelolaan sekolah ini merupakan kelompok masyarakat yang kecewa dengan pemerintah, karena dianggap menutup mata. Mereka bertahan dengan budaya-budaya yang menyita perhatian pariwisata tetapi dukungan pemerintah sangat minim.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Jadi, kami berpikir tidak perlu bantuan dari pemerintah. Kami bisa berjalan sendiri.”

Salah satu guru Sekolah Pedalangan Wayang Sasak, Sukardi, mengatakan, ia tertarik mengajar di sekolah ini, karena ingin mempertahankan keberadaan Wayang Sasak. Pria yang sudah menjadi dalang selama puluhan tahun ini berharap, keberadaan sekolah ini akan melahirkan generasi penerus Wayang Sasak yang dapat melanjutkan seni budaya Sasak.

“Kalau saya mati, siapa lagi dalang yang akan memainkan cerita Wayang Sasak tentang sejarah perkembangan rakyat Suku Sasak,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 7 Juli 2015.

Sukardi mengajar cara membuat wayang dari kulit agar lebih menghayati perang dan karakter tokoh wayang. Ia mengaku tak menerima gaji atau honor selama mengajar.

img_title Kembali ke Tradisi

“Kami tidak meminta honor atau gaji, karena bersama-sama membangun perjuangan untuk keberlangsungan budaya.” Ia hanya berharap, siswanya bisa menyerap ilmu yang diajarkan agar bisa menjadi penerus pedalangan wayang sasak di Lombok.

Wandi (18), salah seorang siswa sekolah Pedalangan Wayang Sasak mengaku ingin menambah pengetahuan terkait wayang khas Lombok tersebut. Sebab, ia belum pernah nonton Wayang Sasak. Ia mengaku ingin menjadi dalang.

Kegiatan di Sekolah Pedalangan Wayang Sasak

img_title Ludruk di Ujung Tanduk
Suasana belajar mengajar di Sekolah Pedalangan Wayang Sasak di Desa Sesela, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, NTB. Foto: VIVA.co.id/Kusnandar

Ia mengatakan, belajar di sekolah dalang tak mengganggu belajarnya di SMA. Sebab, selain cuma dua kali dalam sepekan, belajar mengajar di sekolah ini dilakukan sore hari.

“Harapannya bisa menjadi dalang, bisa meneruskan budaya Wayang Sasak Lombok. Bisa membuat pertunjukan Wayang Sasak, kalau ada kesempatan, kami ngajar dalang lagi menggantikan pak guru yang mengajar sekarang.”

Warga pun menyambut baik berdirinya Sekolah Pedalangan Wayang Sasak. Ningsih (27), salah seorang warga mengatakan, anak-anak muda bisa belajar tentang wayang di sekolah tersebut. Karena, tak sedikit anak muda yang belajar merupakan anak-anak yang putus sekolah.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut