SOROT 354

Ludruk di Ujung Tanduk

Gedung Ludruk di Kampung Seni THR Surabaya
Sumber :
  • VIVA.co.id/Tudji Martudji

VIVA.co.id - Pria itu tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Wajahnya terlihat kuyu dengan sejumlah kerutan di dahinya. Tatapannya kosong, menerawang jauh.

img_title Wayang, Media Efektif Membangun Jati Diri Bangsa

Asap rokok terus mengepul dari mulutnya, dengan bibir yang menghitam. Sesekali, ia menarik napas panjang, seolah hendak menelan sejuta rasa yang menekan. Badannya yang tinggi dan langsing hanya dibungkus celana pendek dan kaus oblong yang sudah pudar warnanya.

Malam itu, Deden Irawan (35) memang terlihat gundah. Aktor sekaligus pengelola grup ludruk Irama Budaya ini mengeluhkan nasib seni ludruk yang kondisinya nyaris menemui ajal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Semakin hari, minat penonton semakin sedikit. Meski digratiskan, penonton tidak sebanyak dulu,” ujarnya kepada VIVA.co.id yang menyambanginya di Kampung Seni Taman Hiburan Rakyat (THR), Jalan Kusuma Bangsa, Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 1 Juli 2015.

Deden mengatakan, ia sudah 17 tahun menggeluti ludruk. Ia merupakan anak angkat dari Sunaryo atau yang lebih dikenal Mak Sakiyah, pendiri grup ludruk Irama Budaya. Grup ludruk yang sudah berdiri sejak 1975 ini sudah kenyang manggung di mana-mana.

img_title Kembali ke Tradisi

Grup ini sudah keliling Surabaya dan Jawa Timur untuk manggung, baik di gedung maupun di lapangan terbuka. "Irama Budaya berkeliling di Surabaya. Saat itu masih ramai. Kami pentas atau main setiap hari," ujarnya mengenang.

Irama Budaya tak hanya pentas di gedung atau lapangan terbuka. Mereka juga sering melayani pentas di rumah warga yang sedang hajatan. Irama Budaya kemudian menetap di Wonokromo dan manggung setiap hari. "Sebelumnya, sempat tiga kali pindah tempat, dan terakhir kembali menetap di Wonokromo,” ujar ayah satu anak ini.

Oleh pemerintah daerah, Irama Budaya kemudian dipindah ke Kampung Seni THR. Di sini, mereka hanya pentas sepekan sekali. Namun, setelah ayah angkatnya meninggal tiga tahun silam, Deden mengaku jarang ikut manggung. Dia lebih banyak mengurus tiket dan keperluan kru Irama Budaya.

img_title Merawat Jejak Wayang Sasak

Seniman ludruk Deden Irawan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Seniman ludruk Deden Irawan. Foto: VIVA.co.id/Tudji Martudji



Di Ujung Tanduk
Lain dulu lain sekarang. Saat ini, menjalani hidup sebagai seorang seniman ludruk sangat sulit. Minat masyarakat terhadap kesenian asli Jawa Timur ini terus menurun. Kondisi ini membuat seniman dan kru ludruk sulit mendapat penghasilan, jika hanya mengandalkan dari pementasan.

"Ya tidak cukup Mas, karcis hanya Rp5.000. Jumlah kursi 50 pun tidak penuh, sering saya tekor. Baik untuk kru atau keperluan lainnya, termasuk dekorasi," ujar Deden.

Meski demikian, Deden memilih tetap bertahan. Meski bukan orang Jawa, pria kelahiran Bogor ini mengaku tak bisa meninggalkan ludruk. Ia mencintai seni peran yang sudah ia lakoni sejak kecil ini. Guna menutupi kebutuhan anak dan istrinya, Deden kerja serabutan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut