- VIVAnews/Ikhwan Yanuar
Berawal dari Keprihatinan
Ibu Kembar mengatakan, mereka sudah merintis sekolah untuk anak-anak dari kaum papa itu sejak 25 tahun lalu. Sejak 1990, mereka rajin "bergerilya" mendidik anak-anak jalanan yang tak diurus oleh negara. Ruang Kelas mereka tersebar di mana-mana, di pojok dan pinggiran ibu kota.
![]()
Sekolah Darurat Kartini didirikan untuk mendidik anak-anak jalanan yang tak diurus oleh negara.
“Kami pernah mendirikan sekolah di Cilincing, Senen, Pasar Rebo, Pulogadung dan tempat lain,” ujar Sri Rosiati atau Rosi, saudara kembar Rian.
Kemudian, pada pertengahan tahun 1990an, dua saudara kembar ini mendirikan sekolah yang sama di kolong tol Jembatan Tiga, Pluit, Jakarta Utara. Sama seperti sebelumnya, "sekolah kaum papa" ini juga harus berpindah-pindah tempat karena digusur dan diusir pemerintah.
“Pertama di kolong tol. Kemudian pindah ke Tanah Merah. Pindah ke Kebon Sayur, balik ke Tanah Merah lagi, balik ke Kebon Sayur lagi. Sebelum di sini sempat di pinggir rel kereta,” Rian mengenang.
Sekolah ini didirikan, berawal dari keprihatinan Bu Kembar terkait nasib anak-anak jalanan dan anak-anak tak mampu yang tak bisa mengenyam pendidikan. Menurut mereka, negara abai dan tak memikirkan pendidikan anak-anak yang kurang beruntung tersebut.
“Kami ingin memutus mata rantai kemiskinan dan kebodohan,” ujar Rian.
Ia menilai, sejak merdeka hingga saat ini, negara terkesan setengah hati dalam memperhatikan pendidikan dan masa depan anak-anak jalanan atau anak-anak dari keluarga miskin. “Sejak Orde Baru, Reformasi, sampai sekarang belum berubah,” dia menambahkan.
Rosi mengatakan, Sekolah Darurat Kartini memang didedikasikan untuk anak-anak usia sekolah yang diabaikan negara. Anak didik mereka merupakan anak-anak jalanan, anak-anak telantar, dan anak-anak dari keluarga tidak mampu. Karena itu, sekolah ini tak menarik biaya sepeser pun dari siswa.
Bahkan, setiap anak yang belajar di sekolah ini mendapatkan seragam, sepatu, tas, dan alat tulis secara cuma-cuma. Tak hanya itu, siswa juga mendapatkan makan siang gratis dari sekolah ini.
Membangun Kemandirian
Sekolah Darurat Kartini memiliki cara sendiri dalam mendidik siswanya. Karena keterbatasan fasilitas dan ruangan, Bu Kembar menyiasatinya dengan metode "belajar darurat".