SOROT 357

Bu Kembar, Pejuang dari Kolong Jalan

Sekolah Darurat Kartini
Sumber :
  • VIVAnews/Ikhwan Yanuar

Untuk tingkat PAUD dan TK ditangani dua orang guru bantu, SD kelas 1 diajari membaca, kelas 2 berhitung penjumlahan, dan kelas 3 perkalian. Kelas 4-6 belajarnya disatukan. Sementara itu, untuk tingkat SMP dan SMA, mereka juga menerapkan pola yang sama dengan siswa SD kelas 4-6.

Pola belajar mengajar di sekolah ini juga berbeda dengan sekolah pada umumnya. Sebab, anak-anak jalanan membutuhkan perlakuan khusus untuk mengubah perilaku dan karakter mereka. Menurut Rian, pembentukan karakter menjadi pilar utama dalam mendidik anak-anak tersebut.

Secara umum, sekolah ini mengacu pada kurikulum pemerintah. Materi dan pelajaran yang diberikan juga sama dengan sekolah lain. Bedanya, sekolah ini menambahkan berbagai keterampilan bagi peserta didik.

img_title Pejuang yang Terabaikan

Beragam pelajaran tambahan diberikan mulai dari membatik, menjahit, memasak, merias, komputer, angklung, membuat telur asin, dan sejumlah keterampilan lain. Menurut Bu Kembar, hal itu sengaja dilakukan agar anak didik mereka bisa mandiri secara ekonomi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Biar mereka bisa bertahan,” ujar Rosi.

Menurut Bu Kembar, Sekolah Darurat Kartini sudah menelurkan puluhan ribu alumni. Mereka tersebar di mana-mana dan sudah berkecimpung di berbagai bidang dan usaha.

img_title Tangis Said, Pahlawan Perakit Bom

“Ada yang bekerja di toko, restoran, karyawan perusahaan, guru, penulis, kameraman, fotografer, nakhoda, polisi, dan TNI. Bahkan tak sedikit yang melanjutkan kuliah hingga S2,” ujar Rian.

Hal itu diamini, Sulastri (47), salah satu orangtua siswa. Ia mengatakan, anaknya yang bernama David sudah lulus dari Sekolah Darurat Kartini dan bekerja di salah satu perusahaan. Menurut dia, sekolah besutan Bu Kembar itu tak hanya gratis, namun juga mampu mendidik anak-anaknya dengan baik.

“Anak didik diperhatikan dengan baik. Kalau sakit diobati,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu 12 Agustus 2015.

Karena itu, Vina Octavia, anaknya yang lain juga menuntut ilmu di sekolah yang sama dan sudah menginjak kelas V SD. Perempuan asal Tegal, Jawa Tengah, ini merasa terbantu dengan keberadaan sekolah ini.

img_title Elyas Pical, Legenda Tanpa Tanda Jasa

Ia mengaku, jika tak ada sekolah tersebut mungkin anak-anaknya tak bisa mengenyam pendidikan. Sebab, ia tak memiliki biaya untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah lain yang membutuhkan biaya.

Hal senada disampaikan Sunia (32). Ia mengaku baru saja memindahkan anak-anaknya ke Sekolah Darurat Kartini. Ia terpaksa memindahkan anak-anaknya karena alasan biaya. Sebelumnya, dua anaknya yang bernama Najwa dan Serly belajar di salah satu sekolah swasta di Jakarta Utara.

Namun, ia tak kuat membiayai sekolah kedua anaknya tersebut. Akhirnya, ia memindahkan anaknya yang duduk di kelas I dan III SD tersebut. “Di sekolah Kartini gratis, dapat seragam, alat tulis, dan makan siang.”     

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut