- VIVA.co.id/Hadi Suprapto
VIVA.co.id - Said bin Isnan menghuni pojok rumah kontrakan seluas 3x6 meter. Sangat sempit untuk disebut rumah yang dihuni lima orang.
Wajahnya sangat layu. Katup matanya sudah menempel dengan mata. Kulit tubuhnya juga sudah macam tulang direkat kulit. Tak punya daging.
Said lebih banyak mengisi hari-harinya dengan tidur-tiduran. Sesekali dia duduk di matras kumal. Tangannya gemetar mendekap peci kuning kebanggaannya.
Udara di Kota Bogor masih sejuk. Apalagi ini di bantaran kali. Suara air jadi mengiringi waktu, termasuk saat kemarau ini.
Sesekali laki-laki tua itu terbangun. Bicara sendiri tentang perjuangannya semasa muda. Melawan tentara Belanda yang ingin kembali merebut Indonesia. Tak ada yang mendengarkan.
Walau tubuh sudah lemah ditelan usia, ingatan Said masih tajam. Dia bangga menjadi pejuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia saat republik ini waktu itu masih sangat belia dan sangat rapuh direbut kembali oleh Belanda tak lama setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.
Said berjuang dengan keahlian dan keberanian yang, bisa jadi, melebihi rekan-rekannya. Dia seorang pembuat bom bagi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Siliwangi.
“Ayah saya seorang tentara Hindia Belanda,” katanya laki-laki kelahiran 1926 ini dengan semangat. Sesekali tersendak riak. Lalu mengusap mulut.
“Saya sudah tidak suka dengan sikap ayah saya. Makanya saya lari dari rumah.”
Sejak usia belasan, Said sudah meninggalkan orangtuanya yang kaya-raya di Cibonong, Kabupaten Bogor. Dia bekerja di satu bengkel mobil Ford di Batavia, dan akhirnya pada 1942 Jepang masuk dan dia ditawan, dijadikan juru masak. “Saya terpaksa pura-pura bersahabat dengan tentara Jepang,” katanya.
Kemampuan mesin dan kelistrikan yang dia punya, diasah. Selain jadi juru masak, dia mempelajari pembuatan bom. Keterampilannya pun bertambah: meramu bumbu dan merakit mesiu.
Hingga akhirnya pada 1945 Indonesia merdeka. Usianya baru 19 tahun. Said muda bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat di bawah pimpinan Letnan Kolonel RH Eddie Soekardi, yang kelak dikenal sebagai pemimpin Perang Bojong Kokosan.
Pada suatu pagi di pada awal Desember 1945, terdengar Sekutu yang ditunggangi Belanda akan mengirim makanan dari Jakarta ke Bandung, lokasi pertahanan terakhir Sekutu. Tapi, Eddie yakin, ini tak cuma kiriman makanan. Ada amunisi.
Maka itu, pasukan disiapkan. Said dan kawan-kawan bertugas merakit bom dan memasang ranjau. Benar saja, tentara Sekutu yang membawa truk dan tank melewati wilayah tebing-tebing Bojongkokosan, Parungkuda, Sukabumi. Perang pun meletus pada 9 Desember.
Dua jam perang tanpa henti. Amunisi habis. Tapi, pasukan TKR tertolong kabut dan hujan lebat. Peralatan canggih Sekutu pun tak bisa apa-apa.
Belakangan perang berlanjut hingga empat hari. Sekutu yang marah membombardir beberapa desa di Sukabumi. Baik Sekutu maupun TKR yang dibantu relawan Hizbullah babak-belur. Banyak korban berjatuhan.
“Kami pernah terdesak. Senjata satu-satunya tinggal bom. Tapi setelah dinyalakan bom tak meledak-meledak. Rupanya mesiunya tak bereaksi karena dibungkus bambu muda, bukan paralon. Kami pun lari terbirit-birit,” katanya, mengenang. “Kami hampir mati,” ujarnya, melanjutkan.
Perang Bojong Kokosan inilah yang kemudian meletupkan Bandung Lautan Api pada 23 Maret 1946.
Ironi Nasib
Perjuangan Said ada buktinya. Indonesia kini benar-benar merdeka secara fisik. Sayangnya, kemakmuran dan kesejahteraan Indonesia tak bisa dirasakannya. Meski sudah merdeka 70 tahun, veteran ini tetap mengontrak rumah. “Saya tak mampu beli rumah,” katanya, lirih.
Mencari rumah dia juga lumayan sulit. VIVA.co.id dibantu oleh Sahabat Veteran menelusuri gang kecil di pinggir kali di Kota Bogor, tepatnya di Kelurahan Ciwaringin, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. “Kami pernah ke sini akhir tahun lalu,” kata Amanati Prasodjo, Ketua Sababat Veteran Kota Bogor, Selasa 11 Agustus.
Jangan dibayangkan seperti gang kecil di Jakarta, gang di Bogor naik-turun., seperti menyusuri lembah dari atas bukit dengan undak-undakan semen berlumut. Sangat licin.