Bu Kembar, Pejuang dari Kolong Jalan

Sekolah Darurat Kartini
Sekolah Darurat Kartini
Sumber :
  • VIVAnews/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id - Hari masih pagi. Jam di tangan masih menunjuk angka tujuh. Namun, kesibukan sudah terlihat di salah satu sudut ibu kota, tepatnya di Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

Puluhan anak beragam usia tampak berduyun-duyun memadati salah satu bangunan yang terletak di antara jalan raya dan rel kereta.

Dua wanita yang tak lagi muda dengan dandanan sama terlihat sibuk mengatur mereka. Sesekali, dua wanita paruh baya ini bersuara keras, agar bisa didengar oleh anak-anak yang sedang asyik bicara atau bercanda.

Itu dilakukan, karena suara mereka tenggelam, kalah oleh raungan kendaraan dan kereta yang lewat, tepat di samping bangunan.

Puluhan anak-anak ini merupakan peserta didik Sekolah Darurat Kartini. Bangunan yang dijepit jalan raya, rel kereta serta tak jauh dari kolong jalan tol ini merupakan tempat belajar mereka.

Ibu kembar mengajari membatik

Sri Rosiati (65) dan Sri Irianingsih (65) dikenal sebagai ibu kembar.

Sementara itu, dua wanita paruh baya yang sibuk mengatur mereka adalah Sri Rosiati (65) dan Sri Irianingsih (65). Dua wanita yang dikenal dengan Ibu Kembar ini merupakan pendiri sekaligus guru dan pengelola sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak jalanan dan anak-anak dari keluarga tak mampu ini.

Tak ada yang istimewa dari bangunan yang disulap menjadi sekolah ini. Bahkan, bangunan seluas dua lapangan bulu tangkis ini lebih mirip gudang dibanding sekolahan. Bedanya, di ruangan ini ada meja, kursi serta papan tulis dan tumpukan buku yang berjejal di lemari.

Juga, poster sejumlah pahlawan nasional serta foto Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang dipajang di depan ruangan.

Puluhan siswa yang berbeda jenjang pendidikan ini harus berbagi tempat dalam satu ruangan yang sama. “Semuanya belajar di ruangan ini, baik PAUD, TK, SD, SMP maupun SMA,” ujar Sri Irianingsih atau Rian kepada VIVA.co.id yang berkunjung ke sekolah ini, Rabu, 12 Agustus 2015.

Sekolah ini hanya memiliki satu ruangan yang digunakan untuk beragam keperluan, mulai dari belajar mengajar, dapur, dan toilet. Para siswa yang berbeda jenjang pendidikan ini hanya dipisahkan dengan kursi yang sudah ditata sesuai kelasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title