SOROT 359

Rupiah Digempur Dolar

Dolar AS dan rupiah.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin

Dalam perbincangan dengan VIVA.co.id di Jakarta, Kamis 27 Agustus 2015, Toto menjelaskan, dampak pelemahan rupiah terhadap pengusaha eksportir tidak semanis pernyataan pemerintah dan tim ekonominya. Karena, ada pula eksportir yang terhantam keras dengan pelemahan nilai tukar rupiah ini.

"Ada sebagian besar eksportir yang menikmati, seperti bahan bakar. Tapi, (depresiasi rupiah) tidak berarti bagi eksportir yang berbahan baku impor," ujarnya.

Apalagi, pelemahan rupiah ini diikuti dengan melemahnya daya beli masyarakat di dalam negeri. Kemudian, perkasanya dolar AS terjadi hampir terhadap seluruh mata uang di dunia. Kondisi tersebut membuat daya beli global juga ikut melemah.

Hingga semester I-2015, GPEI mencatat ada penurunan kegiatan ekspor di pelabuhan sebanyak 5-10 persen. Dia mengingatkan, kondisi ini merupakan sinyal bagi pemerintah, untuk segera memperbaiki keadaan. Salah satunya dengan memperbaiki sistem logistik pendukung kegiatan ekspor.

Pelemahan rupiah yang akhir-akhir ini terjadi, juga membuat kalangan importir berkeluh kesah. Laba mereka tergerus 10-14 persen ketika rupiah menyentuh angka Rp14.000 per dolar AS. Kalau pelemahan terus terjadi, kebangkrutan mengancam mereka.

Ketua Umum Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia, Rofiq Natahadibrata, ketika dihubungi VIVA.co.id di Jakarta, Rabu 26 Agustus 2015 mengatakan, jika rupiah melemah hingga Rp14.500 per dolar AS, laba mereka akan nol alias habis.

"Kalau Rp15.000, kami akan kolaps. Kami tidak bisa membayar utang dan bunga bank," kata dia.

Efisiensi biaya operasional yang dilakukan para importir pun sudah ditekan habis-habisan. Bahkan, untuk menggunakan kendaraan operasional pun hanya bisa dilakukan untuk kegiatan yang sifatnya mendesak. 

"Penggunaan kendaraan dinas dikurangi. Kalau yang ke bank menggunakan mobil, sekarang pakai ojek. Kalau dikumpulin, lumayan banyak," kata dia.

Rofiq mengatakan, hingga semester I-2015 telah terjadi penurunan kegiatan impor sebesar 30-40 persen akibat pelemahan rupiah. Hal ini jelas akan mengancam pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini.

"Impor kecil dan ekspor mengecil," ungkapnya.

img_title Asumsi Pertumbuhan Ekonomi 5,2 Persen Dinilai Sulit Dicapai

kerajinan frame cermin sorot

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Para pekerja tidak mau tahu mengenai menguatnya dolar, Mereka hanya berpikir menyelesaikan pekerjaan untuk memenuhi target. Foto: VIVA.co.id/Juna Sanbawa
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Penguatan Rupiah Dihantui Sentimen Negatif Ekonom Global
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut