Halaman Selanjutnya
Terseret Arus Global Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta kembali menyentuh level terendah sejak krisis 1998, yaitu di kisaran Rp14.000 per dolar pada awal pekan terakhir Agustus. Seperti tidak ada habisnya, kekuatan rupiah terus diuji berbagai faktor, terutama di tingkat global.Pertama, isu kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve, berhasil "melemahkan" rupiah selama hampir tiga tahun terakhir ini. Ketidakpastian kapan kebijakan itu akan diterapkan, membuat rupiah terus terombang-ambing.Berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah terakhir kalinya berada di bawah Rp10.000 yaitu sebesar Rp9.980 per dolar AS, pada 11 Juli 2013. Saat itu, desas-desus kenaikan suku bunga The Fed mulai berembus, dan pada hari berikutnya rupiah langsung berada di level Rp10.024 per dolar AS. Sejak saat itu, hingga hari ini, rupiah tidak pernah lagi menyentuh level di bawah Rp10.000 per dolar AS. Pada 2014, bank sentral AS memutuskan baru akan menaikkan suku bunga acuannya pada 2015. Keputusan itu sebenarnya merupakan momentum yang tepat untuk pemerintah membenahi fundamental perekonomian Indonesia. Pada saat kebijakan itu dikeluarkan, ekonomi dalam negeri dapat lebih tahan menghadapi gejolak yang terjadi di pasar keuangan. Namun, kondisi tersebut tidak berhasil dimanfaatkan oleh pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ada beberapa faktor yang mendasari penguatan tersebut sulit terwujud. Kala itu, Indonesia sedang mempersiapkan momen penting pergantian presiden dan pemerintahan. Permasalahan baru timbul, kisruh politik memperburuk kinerja rupiah.Situasi tersebut diperburuk dengan penurunan harga komoditas dunia akibat melemahnya ekonomi Tiongkok. Ekspor Indonesia anjlok, pertumbuhan ekonomi pun terus mengalami perlambatan hingga saat ini. Pada tahun itu, rupiah terus melemah dan berfluktuasi di level Rp11.000 hingga Rp12.900 per dolar. Terpilihnya Presiden baru, Joko Widodo, pun tidak memberikan pengaruh signifikan. Pada hari pelantikannya pada 20 Oktober 2014, rupiah hanya menguat sekitar 200 basis poin di posisi Rp12.041 dari perdagangan sebelumnya pada 17 Oktober di level Rp12.222 per dolar AS. Penguatan tersebut hanya terjadi kurang dari dua pekan. Setelah kabinet Jokowi terbentuk dan baru mau mulai bekerja, rupiah kembali melemah dan diperdagangkan Rp12.264 per dolar AS pada 1 Desember 2014. Sentimen pemerintahan baru dan segala program kerja yang dibuat, tidak mampu menepis pengaruh global yang terus menekan rupiah. Bahkan, masuk awal 2015, ketika program-program Jokowi sudah mulai terlihat arahnya, belum juga mendapat respons positif dari pasar keuangan, malah cenderung semakin memburuk. Pemerintah dan otoritas moneter terus berkolaborasi mempertahankan rupiah sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia. Namun, pada akhir triwulan I-2015 tepatnya 5 Maret 2015, untuk pertama kalinya rupiah menembus level Rp13.022 per dolar AS. Rupiah ternyata memang bergerak sesuai fundamental ekonomi Indonesia. Terbukti, pada Mei lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,7 persen. Anjlok dari triwulan sebelumnya yang sebesar 5,02 persen. Â Setelah sentimen The Fed sudah mereda dan pasar keuangan mulai mempersiapkan implementasi kebijakan itu, cobaan terhadap rupiah ternyata belum berakhir. Bulan ini, tepatnya 11 Agustus 2015, People's Bank of China (PBoC) atau bank sentral Tiongkok mengimplementasikan kebijakan terbaru dengan mendevaluasi Chinese Yuan Renminbi (CNY) rates sebesar 1,9 persen. Kondisi ini dilakukan sebagai salah satu upaya meningkatkan daya saing ekspor dan mendorong laju pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Keputusan devaluasi ini menyebarkan sentimen negatif kepada pelemahan mata uang secara global, dimulai dari kawasan Asia, diikuti Eropa, tidak terkecuali AS. Di Indonesia, pada hari yang sama, indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok 2,66 persen ke level 4.622,59 dan rupiah melemah 0,41 persen ke level Rp13,607 per dolar AS.Walaupun dalam rilis resmi pertamanya, PBoC menyatakan bahwa devaluasi ini adalah "one off devaluation" atau hanya sekali dilakukan. Tapi, kenyataannya, Rabu 12 Agustus, PBoC kembali menurunkan reference rate-nya atau CNY rates dari 6,2298 ke 6,3306, yang artinya devaluasi lebih lanjut sebesar 1,6 persen. Pada hari yang sama, IHSG rontok 3,1 persen ke level 4.479,49 dan rupiah melemah 1,42 persen ke level Rp13.799 per dolar AS. Pelemahan itu terus terjadi seiring tidak adanya langkah konkret dari pemerintah dan Bank Indonesia untuk menstabilkan nilai rupiah. Rupiah pun betah di atas Rp14.000 per dolar AS.