- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
IHSG melemah 3,1 persen ke level 4.479,49 dan rupiah melemah 1,42 persen ke level Rp13.799 per dolar AS. Foto:Â VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
Tetap Waspada
Kondisi perekonomian global yang terjadi saat ini, menurut Rektor Paramadina dan Guru Besar FEB UI, Firmanzah, sangat tidak bisa ditebak. Dua kekuatan raksasa ekonomi dunia yaitu Tiongkok dan Amerika Serikat sedang bergejolak.
Indonesia yang hanya sebagian kecil dari dunia ini tidak perlu khawatir akan pengaruh global tersebut. Namun, kewaspadaan harus terus ditingkatkan dengan memperkokoh fundamental ekonomi dalam negeri.
"Jadi, setiap gejolak harus dilihat dan diukur, jangan diremehkan. Tetapi, jangan juga terlalu panik," ujarnya.
Pendapat senada diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Keuangan dan Perbankan, Rosan P. Roeslani. Menurut dia, kewaspadaan harus ditingkatkan dan jika pemerintah dapat menginventarisasi penyebab pelemahan tersebut, permasalahan ini pasti dapat teratasi.
"Pelemahan rupiah ini sebenarnya simpel. Impor kita lebih banyak daripada ekspor. Permintaan dolar jadi lebih kuat," katanya.
Dia pun menegaskan, meskipun belum masuk kondisi krisis, penurunan daya beli masyarakat sudah terasa. Kondisi itu tercermin dari menurunnya industri yang sangat berkaitan erat dengan masyarakat, misalnya sektor properti, ritel, dan beberapa bidang lain.
"Paling parah, ya terimbas ke properti, kendaraan, jasa juga lumayan. Terutama yang mempunyai komponen impornya tinggi," tuturnya.
Rosan mengatakan, langkah pertama yang harus dilakukan pemerintah adalah mengembalikan kepercayaan pasar dalam berinvestasi di Indonesia dapat meningkat dan pada akhirnya daya beli masyarakat ikut terkerek.
Namun, dia mengingatkan, upaya itu hanya bisa terwujud jika seluruh jajaran pemerintah kompak dalam mengeluarkan kebijakan, sehingga tidak membuat galau dunia usaha.Â
"Kami juga mengharapkan kebijakan lain, dengan meningkatkan kandungan dalam negeri yang lebih banyak lagi," katanya.
Pandangan serupa disampakan Firmanzah. Menurut dia, soliditas pemerintah menjadi salah satu solusi untuk dapat memperkuat fundamental ekonomi saat ini dan akhirnya dapat memperkuat rupiah terhadap dolar AS.
Karena, menurut dia, pelemahan rupiah saat ini sangat besar berdampak pada upaya pemerintah memperbaiki ekonomi. Mengingat masih tergantungnnya industri dalam negeri akan komponen impor, dolar menguat, ongkos produksi mahal, dan akhirnya membuat kebangkrutan, serta melambatnya pertumbuhan ekonomi.
"Saya rasa banyak hal sudah dilakukan pemerintah. Hanya saja komunikasi ke masyarakat, dunia usaha, investor itu perlu terus ditingkatkan. Untuk meningkatkan kepercayaan dan optimisme. Dan juga terus memonitor perekonomian dunia," tuturnya.