Ancaman Perang Mata Uang

dolar sorot
dolar sorot
Sumber :
  • Reuters

VIVA.co.id - Pasar uang global dalam sebulan terakhir, dipenuhi dengan gejolak oleh penguatan mata uang dolar Amerika Serikat, dan devaluasi mata uang China, yuan. Rencana kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed), yang diperkirakan terjadi pada September ini, membuat mata uang dolar AS menguat terhadap mata uang asing lainnya.

Dolar yang perkasa, membuat mata uang utama dunia melemah. Mata uang Jepang, yen, mata uang Eropa, euro, dan mata uang negara-negara Asia dibuat keok di hadapan dolar AS. Mata uang yen dan rupiah pun terkapar ke level terendah dalam 17 tahun terakhir, atau sejak krisis ekonomi 1998.

Di saat mata uang dolar AS berdiri kokoh terhadap mata uang dunia lainnya, China membuat kebijakan mengejutkan, yakni mendevaluasi (melemahkan) mata uangnya terhadap dolar AS pada 11 Agustus 2015, sebesar 1,9 persen.

Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya meningkatkan daya saing ekspor dan mendorong laju pertumbuhan ekonominya yang menyusut, dengan ekspor China yang menurun lebih dari delapan persen pada Juli lalu. 

Walaupun dalam rilis resmi pertamanya, Bank Sentral China (People's Bank of China/PBoC) menyatakan bahwa devaluasi ini adalah "one off devaluation", atau hanya sekali dilakukan. Namun, kenyataannya, Rabu 12 Agustus 2015, PBoC kembali melanjutkan devaluasi sebesar 1,6 persen. Beredar spekulasi bahwa PBoC akan mendevaluasi yuan sampai 10 persen.

Pasar merespons negatif pelemahan devaluasi yuan, sebagai tanda memburuknya perekonomian negara ekonomi terbesar kedua dunia itu. Kekhawatiran pun memenuhi pasar ekuitas global akan kemungkinan terjadinya kembali krisis ekonomi global.

Kepanikan pun memenuhi pasar ekuitas, yang memicu penjualan saham dan pelemahan mata uang secara global, dimulai dari kawasan Asia, diikuti Eropa, dan AS. Kawasan Asia terkena pukulan paling keras. Mata uang negara-negara berkembang di Asia hingga Afrika, terdepresiasi sangat dalam terhadap dolar AS, karena investor menarik dananya keluar.

Pada 12 Agustus 2015 itu, secara year to date (ytd) rupiah melemah 10,16 persen ke level Rp13.799 per dolar AS, terendah sejak krisis ekonomi 1998. Mata uang won (Korea) melemah 8,35 persen, bath (Thailand) 6,62 persen, dan yen (Jepang) 3,96 persen. Mata uang Malaysia, juga terkena dampak paling parah, karena melemah sampai 13,16 persen, dan turut terpengaruh skandal korupsi Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak.

Sementara itu, mata uang dunia lainnya merosot lebih dari 10 persen, yakni Turki 16,23 persen,  Australia 10 persen, dan Brasil sebesar 29,4 persen.

AS telah lama berang dan menuding China menjaga nilai mata uangnya tetap rendah, dan bukan yang bergerak bebas di pasar valuta asing.

Nilai mata uang yang rendah, memang bisa mengambil keuntungan kompetitif pada perdagangan internasional. Sebab, ekspor negara itu lebih menarik bagi pembeli internasional dan meremehkan negara pesaing lain. Akibatnya, perdagangan internasional menjadi tidak adil.

Devaluasi yuan juga dikhawatirkan akan memicu negara-negara di kawasan itu untuk mendevaluasi mata uangnya juga. Jika hal itu terjadi, bisa mengarah pada devaluasi kompetitif, atau yang dikenal sebagai perang kurs mata uang.

Namun, China mengklaim, langkah yang ditempuhnya itu merupakan respons terhadap pasar. "Reformasi mekanisme kurs yuan ditujukan, agar bisa mendorong lebih maju dengan orientasi pasar. Pasar memainkan peran lebih besar dalam menentukan nilai tukar untuk memfasilitasi keseimbangan pembayaran internasional," kata PBoC dalam sebuah pernyataan.

yuan sorot

AS telah lama berang dan menuding China menjaga nilai mata uangnya tetap rendah. Foto : Reuters/Petar Kujundzic 


Tidak Ikut "Perang"

Bank Sentral Korea Selatan dan Thailand, juga merespons gejolak pasar uang internasional dengan menangguhkan penurunan suku bunga. Thailand menyambut positif depresiasi mata uang baht sebagai “obat”, sehingga produk ekspornya lebih kompetitif di pasar, di tengah pelemahan pertumbuhan ekonomi negaranya. 

Sedangkan Bank Sentral Korea Selatan, berusaha mempertahankan mata uangnya, dengan menjual cadangan dolar mereka untuk memperlambat pelemahan won. Sementara itu, Jepang, yang merupakan pesaing utama China dalam perdagangan dunia, mempertahankan suku bunga acuannya dan menolak mengikuti China untuk melemahkan mata uangnya.

Selanjutnya, Bank Indonesia, memilih mempertahankan suku bunganya. Gubernur BI Agus Martowardojo, Kamis 27 Agustus 2015, menyatakan Indonesia tidak akan mengikuti persaingan devaluasi mata uang. Dia juga menegaskan, BI selalu ada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. 

Agus mengaku rendahnya kurs rupiah yang kini mencapai Rp14 ribu per dolar AS, sudah di bawah nilai fundamentalnya. Dia juga mengklaim, BI secara agresif mengintervensi pasar uang rupiah untuk meredam pelemahan rupiah dan menghentikan spekulasi mata uang. Dia pun meyakinkan, cadangan devisa nasional cukup aman, karena mencapai US$107,55 miliar sampai Juli 2015.

"Di negara lain, pelemahan mata uang adalah untuk mempertahankan daya saing. Tapi Indonesia, bergatung pada ekspor bahan mentah, dan tidak akan mendapatkan keuntungan dari pelemahan rupiah. Kami tidak akan mengikuti persaingan devaluasi," kata Agus.

Dia mengharapkan, Fed segera menaikkan suku bunga acuan (BI Rate), sehingga memberi kepastian dan menghentikan spekulasi di pasar uang global. Dia juga memprediksi, yuan tidak akan melemahkan mata uang RI lebih lanjut.

Diungkapkannya, BI sudah melancarkan strategi untuk menekan tingginya transaksi valas di pasar uang domestik. Jumat 21 Agustus 2015, BI mengeluarkan kebijakan pengetatan, atau pembatasan pembelian valas untuk mengerem laju pelemahan rupiah.

Bank Indonesia mengubah batas nilai maksimum pembelian valas melalui transaksi spot yang dilakukan tanpa keperluan tertentu (underlying), dari sebelumnya sebesar US$100 ribu per bulan per nasabah/pihak asing menjadi US$25 ribu atau ekuivalennya per bulan per nasabah.

Dengan demikian, pembelian valas di atas US$25 ribu diwajibkan memiliki underlying transaksi berupa seluruh kegiatan perdagangan dan investasi. Selain itu, BI mengatur pula bahwa apabila nominal underlying transaksi tidak dalam kelipatan US$5.000, maka akan dilakukan pembulatan ke atas dalam kelipatan itu.

Halaman Selanjutnya
img_title