SOROT 359

Ancaman Perang Mata Uang

dolar sorot
Sumber :
  • Reuters

Nilai mata uang yang rendah, memang bisa mengambil keuntungan kompetitif pada perdagangan internasional. Sebab, ekspor negara itu lebih menarik bagi pembeli internasional dan meremehkan negara pesaing lain. Akibatnya, perdagangan internasional menjadi tidak adil.

Devaluasi yuan juga dikhawatirkan akan memicu negara-negara di kawasan itu untuk mendevaluasi mata uangnya juga. Jika hal itu terjadi, bisa mengarah pada devaluasi kompetitif, atau yang dikenal sebagai perang kurs mata uang.

Namun, China mengklaim, langkah yang ditempuhnya itu merupakan respons terhadap pasar. "Reformasi mekanisme kurs yuan ditujukan, agar bisa mendorong lebih maju dengan orientasi pasar. Pasar memainkan peran lebih besar dalam menentukan nilai tukar untuk memfasilitasi keseimbangan pembayaran internasional," kata PBoC dalam sebuah pernyataan.

img_title Asumsi Pertumbuhan Ekonomi 5,2 Persen Dinilai Sulit Dicapai

yuan sorot

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

AS telah lama berang dan menuding China menjaga nilai mata uangnya tetap rendah. Foto : Reuters/Petar Kujundzic 
img_title Penguatan Rupiah Dihantui Sentimen Negatif Ekonom Global


Tidak Ikut "Perang"

Bank Sentral Korea Selatan dan Thailand, juga merespons gejolak pasar uang internasional dengan menangguhkan penurunan suku bunga. Thailand menyambut positif depresiasi mata uang baht sebagai “obat”, sehingga produk ekspornya lebih kompetitif di pasar, di tengah pelemahan pertumbuhan ekonomi negaranya. 

Sedangkan Bank Sentral Korea Selatan, berusaha mempertahankan mata uangnya, dengan menjual cadangan dolar mereka untuk memperlambat pelemahan won. Sementara itu, Jepang, yang merupakan pesaing utama China dalam perdagangan dunia, mempertahankan suku bunga acuannya dan menolak mengikuti China untuk melemahkan mata uangnya.

Selanjutnya, Bank Indonesia, memilih mempertahankan suku bunganya. Gubernur BI Agus Martowardojo, Kamis 27 Agustus 2015, menyatakan Indonesia tidak akan mengikuti persaingan devaluasi mata uang. Dia juga menegaskan, BI selalu ada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. 

Agus mengaku rendahnya kurs rupiah yang kini mencapai Rp14 ribu per dolar AS, sudah di bawah nilai fundamentalnya. Dia juga mengklaim, BI secara agresif mengintervensi pasar uang rupiah untuk meredam pelemahan rupiah dan menghentikan spekulasi mata uang. Dia pun meyakinkan, cadangan devisa nasional cukup aman, karena mencapai US$107,55 miliar sampai Juli 2015.

"Di negara lain, pelemahan mata uang adalah untuk mempertahankan daya saing. Tapi Indonesia, bergatung pada ekspor bahan mentah, dan tidak akan mendapatkan keuntungan dari pelemahan rupiah. Kami tidak akan mengikuti persaingan devaluasi," kata Agus.

Dia mengharapkan, Fed segera menaikkan suku bunga acuan (BI Rate), sehingga memberi kepastian dan menghentikan spekulasi di pasar uang global. Dia juga memprediksi, yuan tidak akan melemahkan mata uang RI lebih lanjut.

Diungkapkannya, BI sudah melancarkan strategi untuk menekan tingginya transaksi valas di pasar uang domestik. Jumat 21 Agustus 2015, BI mengeluarkan kebijakan pengetatan, atau pembatasan pembelian valas untuk mengerem laju pelemahan rupiah.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut