- Reuters
Titik Jenuh
Analis LBP Enterprise, Lucky Bayu Purnomo memproyeksikan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, masih akan mengalami tekanan hingga akhir September 2015. Pada saat itu, perang mata uang antara China dan AS akan mencapai klimaksnya, ketika bank sentral AS mengelar rapat penentuan kenaikan suku bunga acuan di negara itu.
Sementara itu, Kepala Kebijakan Ekonomi dan Publik Universitas Gajah Mada Tony Prasetiantono menilai, penguatan penguatan dolar AS bisa mencapai titik jenuh. Ada pun indikasi didasarkan pada beberapa hal.
Indikasi pertama, penguatan dolar AS akan jenuh dengan indikasi indeks bursa AS Dow Jones di New York, yang mengalami koreksi berupa aksi ambil untung. Indeks Dow Jones berhasil kembali berbalik menguat mencapai puncaknya, lalu terkoreksi kembali.
“Kedua, adalah kondisi perbankan Indonesia saat ini yang jauh lebih kuat, baik secara kualitatif (tata kelola), maupun kuantitatif (modal). Permodalan yang kuat ditunjukkan dengan rasio kecukupan modal sebesar 20 persen. Kondisi perekonomian saat ini tidak separah pada 1998, yang saat itu bank-bank menderita kerugian besar, modal terkuras, bahkan negatif,” ucapnya.
Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance, (Indef), Enny Sri Hartati, mengatakan, pelemahan rupiah tentunya akan semakin terpuruk, jika yuan melakukan devaluasi hingga 10 persen. Apalagi, ditambah dengan rencana Fed yang akan menaikkan suku bunga pada September nanti.
"Berarti, kalau dua-duanya, tekanan terhadap depresiasi (rupiah) kita semakin berat. Nanti, kalau Fed menaikkan suku bunga, itu pengaruhnya pada capital flight (pelarian modal). Juga kalau yuan devaluasi secara terus menerus, berarti kita ada ancaman defisit perdagangan," ujar Enny. (asp)