- VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
Endang misalnya. Ia telah menjalani profesi sebagai driver GoJek selama 6 bulan dan bisa mengantongi Rp5 juta hingga Rp8 juta per bulan. Sedangkan Evrizal, driver GrabBike yang baru dua hari bergabung, mengaku mendapat penghasian Rp150.000 per hari.
Pendapatan keduanya memang jauh berbeda. Bukan hanya karena jumlah armada yang tak sebanding, tapi juga karena Gojek memiliki banyak layanan ketimbang GrabBike. Gojek tak hanya membuka layanan ojek tapi juga mengantar barang (kurir), pembelian barang, sampai pemesanan makanan.
“Kita juga dikasih hp, bayarnya nyicil dipotong dari penghasilan tiap hari. Penghasilan dibagi 20 persen untuk Gojek dan sisanya untuk kami. Selain itu juga dikasih jaket, dua helm dan masker. Training mengemudi juga ada. Asuransi kecelakaan," ujar Muhammad Hasan, driver Gojek kepada VIVA.co.id, Rabu, 2 September 2015.
"Belum dihitung bonus kalau target order per hari tercapai. Dari tidak tahu menggunakan smartphone, kita jadi tahu teknologi. Dari tidak tahu cara mengemudi yang baik, kita jadi tahu,” kata dia.
Demi profesi barunya itu, Hasan rela berhenti dari pekerjaannya sebagai supervisor di sebuah perusahaan. Ia mengaku, sejak jadi driver Gojek, istrinya leluasa menjaga anak di rumah tanpa harus ikut banting tulang. Padahal, istrinya adalah pegawai bank.
GrabBike juga memberikan benefit serupa. Setelah diberikan pelatihan penggunaan mobile app, mereka memberikan pelatihan lalu lintas. GrabBike juga merencanakan pelatihan bahasa Inggris, medical check up hingga bantuan dana pendidikan bagi anak pengendara yang berprestasi. Pengemudi juga mendapatkan jaminan pensiun dan asuransi kecelakaan.
“Untuk GrabBike sesuai jarak dan lamanya berhenti. Di Indonesia untuk GrabBike pembagian keuntungannya 90 persen untuk pengendara dan 10 persen untuk kami,” ujar Kiki menjelaskan.
Uber mengklaim lebih ekstrem lagi. Menurut juru bicara Uber, Karun Arya, layanan yang sudah digunakan di 337 kota dan 60 negara di dunia ini telah mampu menciptakan peluang ekonomi baru sekaligus alternatif berkendara yang aman.
“Kesempatan ekonomi terbuka luas dengan waktu kerja yang fleksibel. Rata-rata supir yang bekerja penuh mampu menghasilkan Rp12 juta per bulan. Kami membuka kesempatan bagi para supir taksi untuk merasakan keuntungan yang sama dan peningkatan taraf hidup di Uber,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Jumat, 4 September 2015.