- REUTERS/Leonhard Foeger
![]()
Krisis pengungsi merupakan isu kemanusiaan dan menyangkut martabat manusia, tanpa memandang agama atau asal kewarganegaraannya. FOTO: Reuters/Bernadett Szabo
Mengapa Jerman Terbuka
Sebelum Uni Eropa mengubah kuota, Jerman sudah memutuskan membuka perbatasannya lebih lebar. Kanselir Jerman Angela Merkel menegaskan, negaranya siap menampung pengungsi dari Suriah.
"Jerman akan siap membantu ketika dibutuhkan. Tidak ada toleransi bagi mereka yang mempertanyakan martabat bagi orang lain dan tidak ada toleransi bagi mereka yang tidak bersedia membantu, padahal bantuan kemanusiaan dan hukum dibutuhkan," ujar Merkel seperti dikutip harian The Telegraph.
Tahun ini Jerman akan menampung 800 ribu pengungsi. Anggaran 10 miliar euro atau setara 16 triliun rupiah sudah disiapkan.
Jerman juga akan memudahkan fasilitas suaka politik. Seperti dilansir laman International Business Times, jika status suaka berhasil dikantongi, maka pengungsi bisa menerima uang bulanan senilai 359 euro atau setara Rp5,6 juta per bulan, dan kesempatan tinggal di Jerman selama tiga tahun.
Bahkan, ketika masa tinggal itu habis, mereka masih diizinkan untuk mengajukan perpanjangan izin tinggal jika situasi di negara asal masih belum aman. Selain itu, peraih suaka juga memiliki kesempatan untuk bekerja di Jerman.
Jelas, Jerman kini menjadi tujuan favorit pengungsi dari Timur Tengah. Selain berangkat seorang diri, pengungsi juga mengandalkan jasa jaringan penyelundup manusia untuk tiba di Negeri Panser itu.
Menteri Dalam Negeri Jerman, Harald Neymans, menyatakan Berlin sementara keluar dari aturan Dublin demi alasan kemanusiaan. Berdasarkan aturan Dublin, maka pengungsi harus mendaftar di negara pertama tempat dia tiba. Namun, Jerman tetap membiarkan para pengungsi mendaftar di negara mereka.
Namun Neymans menegaskan, aturan Dublin tetap berlaku. "Aturan Dublin mengenai pencari suaka yang telah disepakati oleh UE tetap berlaku dan kami berharap negara anggota UE lainnya tetap mematuhi aturan tersebut," kata Neymans.
Namun redaktur ekonomi BBC, Inggris, Robert Peston, menyebut ada alasan lain, mengapa Jerman begitu antusias menerima eksodus pengungsi. Peston menyebut, ada prediksi Negeri Panser itu mengalami penurunan populasi sekitar 67 ribu antara tahun 2015 dan 2020 menjadi 80,6 juta jiwa. Angka itu terus menurun di tahun 2050 menjadi 74,7 juta dan tahun 2080 hanya tersisa 65,4 juta jiwa.
Penurunan jumlah penduduk tentu mengurangi pasokan tenaga kerja di tahun-tahun mendatang. Tentu, kekurangan tenaga kerja ini bisa membuat Jerman keteteran dalam menghadapi rival kekuatan ekonomi dunia lainnya. Menerima pengungsi, menurut Peston, adalah salah satu cara mempertahankan jumlah angkatan kerja itu.