- REUTERS/Leonhard Foeger
![]()
Selain lewat laut, para pengungsi tiba dengan kereta api. Setiap jam ada 300 hingga 400 orang yang datang. FOTO: Reuters/Dimitris Michalakis
Isu Kemanusiaan
Melihat arus pengungsi yang semakin membesar, Presiden Komisi Uni Eropa, Jean Claude Juncker, pada Rabu 9 September 2015, mengumumkan rencana perubahan kuota pengungsi di 28 negara anggota Uni Eropa. Stasiun berita BBC melansir Juncker mengatakan UE siap menerima tambahan 160 ribu pengungsi yang akan ditempatkan di seluruh UE.
Jerman mendapat kuota terbesar sebanyak 31.443 pengungsi, disusul Prancis 24.031 dan Spanyol 14.931 pengungsi. Jumlah itu akan diambil dari Yunani sebanyak 66.400 orang, Hungaria 54 ribu pengungsi, dan Italia 39.600 orang.
Negara penerima pengungsi akan diberi dana senilai 6.000 euro atau setara Rp97 juta per pengungsi. Dia mengatakan semua pengungsi akan diidentifikasi kelayakan menerima suaka politik.
Dalam proposalnya, Juncker juga membangun standar bersama, bagaimana cara tiap negara memperlakukan para pengungsi. Komisi UE akan kembali bertemu untuk membahas proposal itu pada Senin pekan depan. Jika disetujui, maka proposal tersebut bersifat mengikat. Satu saja negara anggota melanggar, maka mereka akan dikenai sanksi.
Pengumuman itu disampaikan Juncker ketika memberikan pernyataan tahunan di hadapan petinggi Komisi UE. Dalam pidatonya, dia mengakui UE tidak dalam kondisi yang baik. "Ada kekurangan Eropa dalam kesatuan ini dan kurangnya persatuan dalam UE," kata dia.
Dia menegaskan, krisis pengungsi merupakan isu kemanusiaan dan menyangkut martabat manusia, tanpa memandang agama atau asal kewarganegaraannya. Juncker mengakui Eropa memang tidak bisa menampung semua penderitaan yang ada di dunia.
"Tetapi, kita harus menempatkannya dalam perspektif yang berbeda. Angka ini (kuota) baru mewakili 0,11 persen populasi UE. Jumlah pengungsi di Lebanon justru jauh lebih besar, mewakili 25 persen populasi mereka," kata Juncker.
Dia mengatakan proposal ini harus segera diberlakukan karena sifatnya darurat. "Jangan remehkan proposal penting kami untuk segera bertindak. Sebab, musim dingin kian mendekat. Pikirkan keluarga yang kini tidur di taman dan jalur kereta di Budapest, di tenda-tenda di Traiskirchen atau di tepi pantai di Pulau Kos, Yunani. Apa yang akan terjadi pada mereka jika malam musim dingin menjelang?" kata Juncker.
Dalam kesempatan itu, dia turut menyadari permasalahan eksodus pengungsi tidak akan selesai hanya dengan menampung mereka.
"Mari kita perjelas dan jujur dengan kekhawatiran yang sering diungkap warga negara. Selama masih ada peperangan dan teror di Suriah serta Libya, maka krisis pengungsi tidak akan begitu saja menghilang," ujar dia seperti dikutip harian The New York Times.