- VIVA.co.id/http://www.dw.de
Minim Pengawasan
Kepala SDN 07 dan wali kelas A dan R tak bisa dimintai keterangan terkait keseharian dua anak didiknya tersebut.
Seorang guru SDN 07, Hidayat, mengatakan, pihak sekolah sudah mengawasi saat lomba menggambar. Ia menjelaskan, murid kelas 1, 2, dan 3 mengikuti lomba menggambar itu. Murid yang ikut sekitar 100 orang.
Menurut dia, kejadiannya sangat cepat. Tiba-tiba A sudah tersungkur dan tidak terlihat oleh guru yang mengawasi.
“Wajarlah, kami kan manusia biasa juga. Kejadiannya cepat sekali, di luar kuasa kami, tahu-tahu A sudah terkapar,” kata Hidayat kepada VIVA.co.id, Rabu, 23 September 2015.
Menurut Hidayat, pada dasarnya A dan R berteman. A sering dibelikan jajan oleh R. Namun, karena masih bocah, keduanya memang kerap saling ledek. R kerap diledek gendut oleh A.
Selama ini, pihak sekolah menganggap perseteruan antara A dan R adalah hal yang biasa di kalangan anak-anak SD. “Kami tidak menyangka sama sekali. Selama ini, kami anggap wajar saja, biasalah anak-anak,” kata dia.
Kematian A mengejutkan publik. Karena, kali ini anak tak hanya jadi korban, namun juga pelaku. Apalagi, mereka baru menginjak kelas dua SD.
Pemerhati anak, Seto Mulyadi, mengaku sedih dan prihatin dengan kasus tersebut. Pria yang akrab disapa Kak Seto ini juga kecewa, karena kasus kekerasan tersebut terjadi di sekolah.
Menurut dia, jika ada gejala-gejala seorang anak memukul atau berantem, guru dan pihak sekolah seharusnya bertindak cepat, bukan menunggu ada yang luka atau meninggal.
“Jadi, ini merupakan tanggung jawab sekolah, karena kejadiannya di sekolah,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 23 September 2015.
Menurut dia, sekolah harus ramah anak. Upaya itu merupakan komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Untuk itu, kepala Dinas Pendidikan atau Sub Dinas Pendidikan harus betul-betul mengontrol sekolah agar ramah terhadap anak.
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, mengatakan, orang dewasa di sekitar anak berkontribusi mengajarkan kekerasan secara tidak langsung.
Selain itu, tayangan di televisi dan media sosial ikut berkontribusi. “Kami juga kerap dipertontonkan penyelesaian sesuatu dengan kekerasan. Di rumah, di ruang publik, ada yang saling pukul, saling membenci. Itu pemicu anak melakukan kekerasan,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 23 September 2015.
Sementara itu, psikolog Universitas Indonesia, Winda Yustisia, menilai, kasus kekerasan anak yang kembali terjadi dan menelan korban sesama anak adalah masalah serius serta menjadi tanggung jawab semua pihak.
"Dalam hal ini yang paling berperan adalah orangtua. Kalau pihak sekolah yang harus tanggung jawab saya tidak setuju. Orangtua lah yang harusnya berperan aktif karena waktu anak lebih banyak dengan orangtua, bukan sekolah," ujarnya pada VIVA.co.id, Kamis 24 September 2015.
Menurut Winda, perilaku orangtua di rumah mencerminkan perilaku dan perkembangan anak. "Anak ini kan sifatnya masih meniru. Apalagi yang kita tahu, usia pelaku dan korban masih kelas 2 SD," dia menambahkan.
"Nah, usia-usia seperti itu sangat rentan. Apakah orangtuanya gampang marah dan sebagainya. Orangtua harus bisa jadi pedoman dan berperilaku baik di depan anak".
Winda mengatakan, kasus yang menimpa A menunjukkan lemahnya pengawasan dan pola didik. "Pihak sekolah lebih fokus pada sistem pengajaran, tidak pada aspek mendidik. Anak tidak diajarkan rasa empati, menahan emosi, rasa menghargai, dan sebagainya," ujarnya.
Selain pengaruh lingkungan dan pola asuh maupun cara didik yang kurang baik, Winda meyakini, aksi kekerasan bisa saja terjadi karena tidak tepatnya tayangan yang dikonsumsi oleh anak-anak.
"Bukan lagi media televisi, namun sekarang ini anak-anak juga cenderung hobi bermain game online. Nah, itu yang harus diawasi, lihat mereka main apa, berkawan dengan siapa, dan kalau ada yang aneh-aneh sebaiknya segera dibicarakan," ujar dia.