- ANTARA/Nyoman Budhiana
![]()
I Wayan Sumardana alias Tawan bekerja menggunakan tangan robot buatannya. Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana
Lumpuh
Semua berawal dari tragedi yang terjadi enam bulan lalu. Pada suatu malam, Tawan tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia bangun karena merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.
Seiring rasa sakit tersebut, tiba-tiba tangan kiri ayah tiga anak ini tak bisa digerakkan. Tawan pun kaget dan panik. Begitu juga dengan istri dan ketiga anaknya.
Tawan kemudian memeriksakan penyakitnya ke dokter. “Katanya saya mengalami penyumbatan darah. Saya diberi obat untuk melancarkan aliran darah," ujarnya.
Namun, hasilnya nihil. Tangannya tetap tak bisa digerakkan. Tak putus asa. Ia kembali pergi ke dokter yang berbeda. "Katanya saraf saya tidak bekerja. Saya diberi obat perangsang saraf. Namun tidak ada perubahan," dia menambahkan. Dari informasi yang diterimanya, ia kena stroke ringan.
Pengobatan medis tak membuahkan hasil, Tawan kemudian beralih ke pengobatan non-medis. Sedikitnya enam kali ia pergi ke paranormal. Namun, hasilnya sama. "Saya hampir putus asa dengan kondisi ini.”
Istri Tawan, Ni Nengah Sudiartini mengatakan, suaminya divonis kena stroke ringan, sehingga tak bisa bekerja. Berangkat dari kondisi itu, suaminya susah payah mempelajari cara membuat robot siang dan malam. Berbagai percobaan dilakukan.
Sudiartini tak mengetahui persis bagaimana awal mula suaminya memiliki ide membuat tangan robot. Yang pasti, sejak mengalami kelumpuhan, suaminya bertekad agar tangan kirinya bisa digerakkan kembali.
"Waktu itu sih dia bilang kepingin tangannya bisa digerakkan lagi. Itu setelah perekonomian keluarga hancur gara-gara tangannya lumpuh. Kan tidak bisa kerja lagi, tidak bisa ngelas karena tangannya tidak bisa bekerja," ujarnya.
Modal Barang Bekas
Dua pekan Tawan hanya duduk di rumah karena tak bisa bekerja. Akibatnya, tak ada pemasukan untuk keluarganya. Istrinya sering mengeluh tak punya beras dan uang untuk belanja.
Tak hanya itu, ketiga anaknya juga terpaksa "puasa" di sekolah, karena tak dibekali uang jajan. "Dari sana saya bangkit. Anak saya sekolah tidak bisa jajan. Istri tidak punya beras. Saya berpikir bagaimana caranya menggerakkan tangan saya lagi," ujar pria yang hangat ini.
Ia kemudian mencari cara menggerakkan tangan kirinya kembali. Berbekal pengalamannya waktu sekolah di salah satu SMK di Denpasar, Tawan mencoba merakit robot. Guna menambah pengetahuan, ia banyak belajar dari dunia maya.
Akhirnya, berbekal barang rongsokan, ia mulai merakit robot untuk membantu tangannya bekerja. Dua bulan lamanya ia merakit benda tersebut.
Awalnya, ia membuat sketsa robot yang bisa membantunya menggerakkan tangan. Kemudian, ia membuat daftar "suku cadang" yang dibutuhkan. Tawan meminta bantuan istri dan ketiga anaknya untuk membantu mengumpulkan.
Tiap kali dapat benda yang dianggap diperlukan, istri dan ketiga anaknya selalu memberitahunya. "Anak saya yang nomor satu kalau lihat komputer selalu kasih tahu saya. Pak, ini ada komputer," ujarnya.
Sudiartini mendukung langkah suaminya itu. Tiap hari, jika ada orang menjual barang rongsok elektronik, ia selalu memberitahu suaminya. "Kalau ada yang jual barang rongsok elektronik, saya sama anak-anak kasih tahu dia. Misalnya ada yang jual komputer atau printer bekas saya kasih tahu," ujarnya mengenang.
Setelah semua benda terkumpul, Tawan kemudian mulai membuat alat tersebut. Tawan mengaku merakit sendiri benda-benda tersebut. Hanya istri dan ketiga anaknya yang membantunya. Setelah jadi, Tawan langsung mencobanya. Sayang, alat tersebut tak berfungsi.
"Lima kali gagal saya. Pada percobaan keenam baru alatnya berhasil," dia mengenang.
Selanjutnya, Tawan memerlukan alat sensor yang dipakai di kepala untuk menggerakkan alat hasil rakitannya tersebut. "Saya cari di internet. Saya beli online dari Amerika. Harganya Rp4,7 juta," ujarnya.
Sudiartini mengatakan, hampir semua bahan yang digunakan untuk membuat alat itu merupakan barang rongsokan. "Kalau alat yang di kepala itu dibeli baru. Uangnya dari sisa tabungan terakhir. Setelah beli alat itu, tabungannya habis," ucapnya seraya terkekeh.
Tawan menjelaskan cara kerja alat rakitannya menggunakan sensor otak. Perangkat yang ia kenakan di kepala akan mengalirkan apa yang ia inginkan melalui dinamo yang dipasang di punggungnya. Kemudian, aliran itu akan ke tangan kirinya yang lumpuh.