- ANTARA/Nyoman Budhiana
Karena dianggap berhasil menciptakan robot untuk tangannya yang lumpuh, Tawan pun sempat dijuluki "Iron Man dari Bali".
Alat itu mampu kembali menggerakkan tangannya seperti semula. Tawan kembali bisa mengelas, mengangkat beban berat, dan aktivitas lain yang menggunakan tangan kirinya. Sehari-hari, Tawan menggunakan alat tersebut untuk melakukan berbagai aktivitas.
![]()
I Wayan Sumardana alias Tawan bekerja menggunakan tangan robot buatannya. Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana
Diragukan
Sayangnya, meski penemuannya diminati banyak orang, alat tersebut sulit dioperasikan oleh orang lain. "Ada yang pernah mencoba, tapi tak berhasil. Kalau mau coba silakan," ia menawarkan. Namun, sama seperti yang lain, VIVA.co.id juga gagal mengoperasikan alat tersebut.
Lantaran tak bisa dioperasikan oleh orang lain, Tawan sedikit kecewa. "Sayang sekali tak bisa dioperasikan oleh orang lain," ujarnya.
Kondisi itu membuat sejumlah kalangan meragukan alat tersebut dan menuding Tawan menipu. Namun, Tawan bergeming. Ia cuek dengan penilaian orang lain.
"Terserah mereka mau bilang apa. Tapi yang pasti, untuk apa saya berbohong," dia bertanya.
Ia mengaku siap mempertanggungjawabkan hasil karyanya itu di depan publik. Namun, apa pun penilaian orang, yang pasti, alat itu bisa membuat roda ekonominya kembali bergairah.
"Orang mau percaya atau tidak, alat ini bisa membuat saya mencari nafkah lagi,”
tuturnya.
Tetangga Tawan, Ketut Bocel, mengaku tak kaget dengan tangan robot besutan Tawan. Sebab, Tawan memang sosok yang cerdas dalam mengaplikasikan disiplin ilmunya.
Menurut dia, apa yang diciptakan Tawan merupakan karya brilian yang patut diapresiasi. "Ini karya brilian. Harus didukung oleh pemerintah," ujarnya.
Ia mengetahui persis bagaimana Tawan tergolek lemah tak berdaya lantaran lumpuh, hingga akhirnya bisa bergerak lincah dan bisa menggunakan tangan kirinya kembali.
"Jangan sinis terhadap Tawan. Mari buktikan, dukung dan bantu, bukan sebaliknya, mencibir saja tanpa solusi,” kata dia.
Pujian juga datang dari Endra Pitowarno. Dosen Teknik Mekatronika Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ini mengatakan, pengalaman di lapangan yang dimiliki oleh Tawan membuatnya lebih peka terhadap kebutuhannya. Terlebih, latar belakang pendidikannya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
“Rata-rata mereka yang pernah menempuh pendidikan SMK itu akan selalu bisa menciptakan bermacam-macam hal. Apalagi kalau memang Pak Tawan ini memiliki kemampuan programming, jelas masuk akal,” kata Endra kepada VIVA.co.id Rabu, 27 Januari 2016.
Endra menjelaskan, pada dasarnya alat yang diciptakan Tawan memiliki konsep kerja yang sederhana. Yakni, dengan menggunakan sejumlah komponen yang ada pada lie detector, atau alat pendeteksi kebohongan. Menurut dia, Tawan mengadopsi sistem kerja yang ada pada lie detector.
Meski diciptakan dari barang bekas, tangan robot ciptaan Tawan masih memiliki kualitas yang cukup bagus. “Idenya itu sangat unik. Walaupun bahannya bekas, tapi semuanya bermutu, dan tidak sembarangan dalam memilih, karena memang Tawan memiliki dasar pengetahuan yang cukup mumpuni dari sekolahnya dulu,” ujar Endra.