- VIVA.co.id/Agus T Haryanto
VIVA.co.id – Hening. Di ruangan seluas lapangan bulu tangkis itu nyaris tanpa suara. Duduk di kursi roda adalah seorang “pasien,” Jennifer Santoso. Sambil memangku laptop, dia diam seribu bahasa. Matanya terus fokus pada layar laptop yang menyala. Jarinya bergerak di papan ketik laptop.
“Pasien” itu menunggu munculnya kedip lampu hijau di layar laptop. Beberapa saat setelah duduk di kursi roda itu, kedip warna yang menyala pada sketsa otak masih hitam. Pertanda masih belum fokus.
Di belakang kursi roda, bersiap seorang “trainer,” Ivan Halim Parmonangan. Melihat kedip hitam di layar, lalu sang ‘trainer’ ini membetulkan posisi neuroheadset yang ada di kepala ‘pasien’.
Tak beberapa lama, kedip warna hijau muncul di bagian sketsa otak di layar laptop. Sang ‘pasien’ tetap fokus pada layar laptop. ‘Pasien’ menjalankan kursi roda dengan perintah otaknya. Dengan fokus berpikir, kursi roda ia gerakkan mengitari ruangan dengan jarak tiga meter. Tak jauh. Semua arah dicoba, ke depan, belok kiri, belok kanan sampai berhenti.
Trainer dan pasien tersebut bukan sedang di rumah sakit, bukan pula sedang dilaboratorium. Keduanya nyatanya sedang mendemonstrasikan apikasi Bina Nusantara Wheelchair (BNW) atau kursi roda kendali otak, di di Lantai 2 Gedung Kampus Anggres Bina Nusantara University, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Selasa 26 Januari 2016. Bentuknya seperti kursi roda pada umumnya, tapi bedanya, untuk menggerakkan kursi itu, butuh perintah dari otak.
Kunci operasi BNW itu adalah pada neuroheadset. Perangkat ini menangkap sinyal otak Jennifer untuk dimasukkan dalam aplikasi yang namanya Bina Nusantara Wheelchair (BNW). Aplikasi ini bekerja menerjemahkan sinyal otak dengan algoritma, sebelum menggerakkan roda tersebut.
Ivan menjelaskan, pikiran seseorang bisa diterjemahkan melalui aplikasi buatannya, usai dipasang sebuah neuroheadset. Aplikasinya ini akan mengolah sinyal yang diterima dari perangkat di kepala itu, kemudian difilter untuk mengambil gelombang alfa dan beta.
Setelah itu, gelombang tersebut akan diterjemahkan ke dalam bentuk algoritma Fast Fourier Transformation yang nantinya dinput ke mesin. Lalu, aplikasinya ini akan meneruskan sinyal yang diproses ke Arduino Uno, yakni papan mikrokontroler dan diteruskan ke motor driver yang digunakan untuk menggerakan motor DC, motor listrik yang bekerja menggunakan sumber tegangan DC.