- VIVA.co.id/Agus T Haryanto
“Setelah itu, barulah saya mulai mengajak mahasiswa-mahasiswa saya untuk membuat, serta mengikuti berbagai kontes robot yang lebih serius pada tahun 1993," kenang Endra. Tercatat, 60 mahasiswa angkatan pertama, 12 mahasiswa di antaranya berhasil membuat karya Tugas Akhir (TA) bertema robotika.
Robot tikus itu seakan menjadi pintu bagi perkembagan dunia robotika di Indonesia. Setelah robot tikus, munculah robot route runner atau yang sekarang dikenal dengan line tracer, yang makin menambah antusias mahasiswa.
Denyut antusiame kepada robotika di dalam negeri itu akhirnya terdengar sampai telinga pada ahli robotik dari Jepang. Maka tim PENS-ITS diundang perusahaan penyiaran Jepang Nippon Hooso Kyokai (NHK) untuk berlaga dalam kontes rovot NHK Robocon pada 1991.
Jadi, saat itu PENS-ITS merupakan satu-satunya peserta dari negara lain. Tak disangka, robot PENS-ITS yang bernama Bima X-1 mampu mengalahkan robot dari Kyoto pada pertandingan pertama. Meski akhirnya tidak menang, tapi Bima X-1 pulang dengan menyabet The Best Idea. Prestasi itu memikat NHK, maka kompetisi setahun berikutnya, PENS-ITS kembali diundang dalam NHK Robocon 1992.
Pada kompetisi 1992 itu, memboyong robot CARAKA XH, PENS-ITS yang membawa bendera merah putih mengejutkan Jepang dengan menembus semifinal dan meraih juara ketiga. Prestasi itu pun cukup membuat Jepang kaget, hingga pada kontes NHK Robocon di tahun berikutnya, PENS-ITS tidak diundang lagi oleh NHK.
Meski demikian, mereka tak putus asa dan akhirnya muncul ide untuk mengadakan kontes robot bernama Indonesian Robot Contest (IRC) yang kemudian menjadi Kontes Robot Indonesia (KRI). Terdapat delapan tim dari empat institusi peguruan tinggi yang berlaga dalam IRC 1993 kala itu. Hingga 2007, sudah 9 kali KRI digelar, yang mana sejak 2002, KRI rutin diadakan sekali dalam setahun hingga tahun ini.
Pada 2003, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, mulai mendanai KRI. Pelaksanaan KRI-5 pada 2003 dipindahkan ke Univeristas Indonesia Jakarta, untuk dapat menjaring lebih banyak peserta. Hasilnya jumlah peserta bertambah terus, baik jumlah perguruan tinggi (PT), maupun tim peserta yang ikut berpartisipasi. Dari 16 PT yang mendaftar pada 2002, bertambah menjadi 34 PT pada 2003. Jumlah terus meningkat secara signifikan pada tahun-tahun berikutnya.