- VIVA.co.id/Agus T Haryanto
"Sehingga apa yang terbaca dalam pikiran kita itu benar-benar akurat, dapat digerakkan kursi roda," kata Lili.
Tantangan lainnya, tutur Lili, dibutuhkan kondisi yang tenang, agar pikiran pengguna bisa fokus dan menggerakkan kursi roda. Sementara dalam nantinya jika dipraktikkan dalam masyarakat untuk kehidupan sehari-hari, kursi roda itu bakal berpotensi bersentuhan dengan keramaian.
![]()
Ivan Halim Parmongan dan Jennifer Santoso memperlihatkan cara kerja kursi roda yang beroperasi dengan bantuan sinyal otak. Foto: VIVA.co.id/Agus T Haryanto
Untuk itu, Lili mengatakan hal yang perlu disempurnakan dari kursi roda kendali otak ini adalah akurasi, penerjemahan sinyal otak, gestur, emosi ke pergerakan roda. "Sehingga gangguan apapun yang terjadi di sekelilingnnya penggunanya dapat menggerakan kursi roda dengan baik,” kata dia.
Binus University mengaku tak terburu-buru membuat proyek kursi roda itu bisa segera dipasarkan ke masyarakat. Prinsipnya kampus mendukung proyek inovasi yang bermanfaat untuk masyarakat. Lili mengatakan, dalam kurun waktu 1,5-2 tahun, kampus optimis bisa menciptakan sesuatu yang bisa digunakan masyarakat.
Dikatakan Lili, kampus juga sudah ingin memperluas aplikasi kursi roda kendali otak itu ke platform yang lain. Saat ini aplikasi itu, sudah berjalan pada laptop, dan sudah ancang-ancang untuk melahirkan aplikasi bisa berjalan pada platform Android dan iOS.
"Jadi, penyempurnaanya nanti ke arah sana," kata dia.
Kontroversi Tawan
Beriringan dengan inovasi kursi roda karya mahasiswa Binus tersebut, di Pulau Bali, belakangan sedang muncul perhatian tentang inovasi berbasis kendali otak dari seorang tukang las, I Wayan Sumardana.
Pria yang karib disapa Tawan itu tampak gesit menyambung besi di bengkel las miliknya dengan bantuan rangkaian mekanik yang diikat di lengan kirinya. Lengan tawan lumpuh setengah tahun belakangan sehingga memaksa menggunakan rangkaian itu untuk bekerja.
Pusat rangkaian tersebut berada pada alat yang dipakai melingkar di kepala. Lampu berwarna merah, biru dan hijau selalu berkelip pada alat yang dipasang melingkar di kepala dan punggung.
Dia mengatakan cara kerja alat rakitannya menggunakan sensor otak. Menggunakan kekuatan otak, alat yang dipakai di kepala akan mengalirkan apa yang diinginkannya melalui dinamo yang dipasang di punggungnya.