- ANTARA/Nyoman Budhiana
![]()
Dosen Teknik Mekatronika Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) yang juga pakar robotika, Endra Pitowarno. Foto: VIVA.co.id/Januar Adi Sagita
Endra melanjutkan, alat seperti itu sebenarnya sudah lazim digunakan dalam dunia kedokteran. Sebab, tangan robot temuan Tawan itu masuk ke dalam kategori medical robotic.
“Di Jepang, itu juga sudah ada. Alatnya semacam itu, tapi bentuknya jaket, dan biasa digunakan untuk membantu para orang tua yang sudah lumpuh,” katanya.
Apresiasi juga datang dari Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Ary Setiaji Prihatmanto. “Harusnya kita mengapresiasi Pak Tawan, dengan komponen seperti itu, dia berusaha membangun robot untuk membantunya bekerja,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 28 Januari 2016.
Ary mengaku kagum dan memberikan apresiasi kepada Tawan. “Dia harus ngelas dan membutuhkan dua tangan. Saya lihat itu sangat membantunya. Luar biasa,” ia menambahkan.
Ia bahkan berencana berkunjung ke Bali untuk menemui Tawan. Melihat alat yang sudah dibuat Tawan, dan akan menambahkan jika ada kekurangan dalam alat tersebut.
Hari menjelang siang. Namun, Tawan masih sibuk dengan tumpukan besi dan peralatan lasnya. Sesekali, ia berbicara dan bercanda dengan sejumlah orang yang berkunjung ke bengkel lasnya. Meski tenar dengan sebutan "Iron Man dari Bali", Tawan ingin lepas dari tangan robotnya.
"Harapan ke depan, inginnya tangan saya bisa kembali normal, tidak pakai alat ini lagi. Saya mau berobat lagi ke dukun. Saya mau obati lagi tangan saya. Biar normal lagi tangan saya seperti tangan Mas-nya,” tuturnya.