SOROT 382

Raksasa-raksasa Minyak Tergelincir

Sumber :
  • REUTERS/Dominic Ebenbichler

Venezuela dan Iran menghadapi Saudi dan sekutunya di Teluk Persia. Iran dan Venezuela mendapat dukungan dari Aljazair, Nigeria, dan beberapa negara yang mendapat keuntungan dari ekspor minyak, berargumentasi bahwa OPEC harus memangkas produksi untuk mempertahankan harga, seperti yang pernah dilakukan pada tahun 1990-an saat terjadi krisis finansial di Asia, juga pada awal tahun 2000 ketika terjadi buble ekonomi, dan terakhir, pemangkasan produksi juga pernah dilakukan pada enam tahun yang lalu.

Namun Saudi dan sekutunya di negara teluk bersikukuh mengatakan tidak. Mereka berargumentasi, jika mereka melakukan pemotongan produksi, maka mereka akan kehilangan pasar karena Amerika terus meningkatkan produksinya hingga jutaan barel per tahun.

img_title Gangguan Keamanan di Nigeria Bikin Harga Minyak Dunia Naik

Keputusan Saudi itu secara efektif menghapuskan peran OPEC sebagai kartel tradisional produsen minyak global. Padahal, OPEC tak lagi menjadi satu-satunya pemasok dengan volume produksi tinggi, dan kemampuan menaikan dan menurunkan harga dengan mengelola output. Amerika Serikat mulai membayangi dan sedikit demi sedikit mengambil peran OPEC.

Keputusan OPEC untuk mempertahankan angka produksi mengejutkan pasar minyak. Sejak itu harga menukik tajam. Awalnya, produser minyak independen Amerika melihat hal tersebut sebagai serangan langsung untuk mereka, namun waktu mengubah semuanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Situasi itu malah membuat pertumbuhan penjualan minyak Amerika terus meningkat. Sementara penjualan minyak OPEC terus terpuruk. Hingga sekarang, penurunan harga minyak telah mencapai 70 persen dari harga normal tahun 2015.

Hingga akhir Januari 2016, harga minyak hanya berkisar  US$34 per barel. Dikutip dari New York Times, situasi ini mulai terlihat jelas sebagai ancaman.

img_title Sinyal The Fed Dongkrak Bursa Saham Wall Street

http://media.viva.co.id/thumbs2/2016/02/05/56b4913fbd10f-stasiun-pengisian-bahan-bakar-chevron_663_382.JPG

Stasiun pengisian bahan bakar Chevron di kota Cardiff, California, Amerika Serikat. Foto: REUTERS/Mike Blake

img_title Rupiah Harus Manfaatkan Momen Ini

Harus Berhemat

Perusahaan-perusahaan minyak mulai menghentikan operasi lebih dari dua pertiga rig mereka, dan memotong secara tajam investasi dalam eksplorasi dan produksi. Lebih dari 250.000 pekerja di sektor perminyakan telah kehilangan pekerjaan mereka.

Exxon Mobil, perusahaan minyak raksasa AS juga melaporkan kerugian. Dilansir BBC, Rabu, 3 Februari 2015, laba Exxon Mobil anjlok 58 persen menjadi US$2,78 miliar di tiga bulan terakhir tahun lalu, dibanding dengan US$6,57 miliar untuk periode yang sama tahun sebelumnya. Secara tahunan, laba Exxon menyusut 50 persen menjadi US$16,2 miliar di 2015 dari US$32,5 miliar di 2014.  Exxon mengatakan akan memangkas anggaran belanja menjadi US$23,3 miliar di 2016, turun 25 persen dibanding 2015.

Pendapatan bisnis hulu migas Exxon, yakni eksplorasi dan produksi, merosot menjadi US$857 juta di kuartal IV. Nilai tersebut merosot tajam dibanding dengan pendapatan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$4,6 miliar.

Sementara British Petroleum (BP) melaporkan kerugian tahunan terburuk dalam 20 tahun terakhir. Dikutip dari CNBC, Rabu, 3 Februari 2016, pada tahun 2015, perusahaan melaporkan kerugian sebesar US$6,5 miliar. Pada saat pembukaan saham di bursa London dibuka, saham mereka turun lebih dari lima persen. Di kuartal keempat tahun 2015, keuntungan yang diterima hanya sebesar US$196 juta, jauh di bawah ekspektasi yaitu US$730 juta.

Perusahaan ini juga mengumumkan akan menghentikan proyek eksplorasi, yang artinya akan memotong lima persen dari angkatan kerja di seluruh dunia.  BP secara resmi juga mengatakan akan mengurangi produksi minyak global, dan mengurangi jumlah pegawai.

Royal Dutch Shell, salah satu raksasa perusahaan minyak asal Belanda,  juga melaporkan situasi yang sama. Dikutip dari New York Times, 4 Februari 2016, perusahaan tersebut menyampaikan penurunan profit hingga 56 persen pada kuartal keempat dibandingkan tahun lalu. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut