- REUTERS/Dominic Ebenbichler
Gejolak Arab
Situasi terburuk mungkin dialami oleh Arab Saudi. Sebagai negara yang sangat mengandalkan penjualan minyak sebagai penghasil devisa utama, ambruknya harga minyak memberi dampak sangat besar pada negara kerajaan konservatif itu.
Pendapatan Arab Saudi dari minyak turun hingga 23 persen tahun lalu. Dikutip dari BBC, 18 Januari 2016, negara ini mengumumkan defisit anggaran yang mendekati US$100 miliar.
Arab Saudi juga melakukan sejumlah langkah efisiensi. Pada bulan Desember, Raja Salman menaikkan harga bensin murah dengan mengurangi subsidi hingga sebesar 40 persen. Tak berhenti disitu, Raja Salman juga berencana mengurangi pertumbuhan gaji sektor publik dan membatasi ketergantungan negara pada minyak.
Situasi Saudi diperparah dengan pencabutan sanksi atas Iran. Segera setelah pencabutan sanksi diberlakukan, harga saham Arab Saudi Bursa Efek jatuh hingga 5,4 persen pada hari Minggu, 17 Januari 2016. Jika harga minyak tak juga mengalami peningkatan, maka Saudi dipastikan akan melakukan reformasi besar-besaran demi menyelamatkan negaranya dari kebangkrutan.
Sejumlah mobil mengantre di stasiun pengisian bahan bakar Sinopec di Zhengzhou, Henan, China, 9 Februari 2015. Foto: REUTERS/Stringer/Files
Tahun 2016 baru mulai berjalan. Namun harga minyak masih belum jelas. Dikutip dari VoA News, akhir tahun lalu, pada 2016 ini proyeksi baru dari Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional memperkirakan, harga akan jatuh lebih jauh - ke level US$ 20 per barel pada tahun 2016.
Prediksi yang sama juga disampaikan oleh John Demopoulos, pakar strategi pasar dari AS. Kepada VoA News, ia mengatakan, tak melihat ada tanda-tanda kenaikan yang signifikan pada 2016. Bahkan meski Iran memasuki pasar ekspor dan mengimbangi Amerika, itu semua tak akan memberi dampak besar.
Dunia dihadapkan pada situsi terjepit. Jika harga minyak terus menurun, yang berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi, pengurangan jumlah karyawan dan meningkatnya pengangguran, harga pangan yang melambung, disertai dengan daya beli yang melemah, maka hanya kalimat ini yang layak diucapkan, dunia menghadapi krisis global. (ren)