SOROT 382

Raksasa-raksasa Minyak Tergelincir

Sumber :
  • REUTERS/Dominic Ebenbichler

Ben Van Beurden, Direktur Eksekutif Shell's mengatakan, mereka telah memangkas 7.500 tenaga full time dan paruh waktu. Shell juga akan melakukan merger dengan BG Group, perusahaan minyak dan gas  dari Inggris.

Jika merger terjadi, maka masih ada sekitar 2.500 tenaga kerja yang akan dieliminasi. "Kami akan membuat perubahan yang substansi dalam perusahaan ini. Kami akan memfokuskan kembali Shell menghadapi turunnya harga minyak," ujar Van Beurden. Selain itu, demi menjaga modal perusahaan, Shell menunda dua proyek besar mereka, yaitu operasi gas alam cair di Kanada, dan pembangunan eksplorasi minyak dan gas laut dalam di Nigeria.

Di Asia, perusahaan minyak milik pemerintah Malaysia, Petroliam Nasional Bhd atau Petronas, mengumumkan kerugian besar di awal tahun 2016.  Dikutip dari The Sun, 20 Januari 2016, penghasilan perusahaan tersebut anjlok hingga 91 persen. Petronas dikabarkan akan melakukan pemotongan belanja modal dan pengeluaran operasional hingga 50 miliar ringgit Malaysia sampai empat tahun ke depan.

img_title Kurs Dolar AS Bebani Anjloknya Harga Minyak

http://media.viva.co.id/thumbs2/2016/02/05/56b494180da38-logo-perusahaan-minyak-bp-terlihat-di-kota-london_663_382.JPG
BP secara resmi juga mengatakan akan mengurangi produksi minyak global, dan mengurangi jumlah pegawai. Foto: REUTERS/Luke MacGregor/Files

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perusahaan itu juga dikabarkan akan membatalkan sejumlah proyek. Petronas telah memulai kerugian sejak akhir tahun 2014.  Saat itu,  perusahaan mencatat kerugian  hingga 7,3 miliar ringgit  atau sekitar Rp26,15 triliun.

img_title Jumlah Pengeboran Bertambah, Harga Minyak Turun

Padahal akhir tahun 2013 masih ditutup dengan keuntungan hingga 12,8 miliar ringgit  atau sebesar Rp45,86 triliun.  PHK juga membayangi Petronas, dimulai dengan memutus semua tenaga kontrak di perusahaan tersebut.

Negara kuat Rusia juga tak bisa menghindar dari ambruknya harga minyak dunia. Hari Senin pekan lalu BBC mengabarkan, mata uang nasional Rusia turun ke posisi terendah,  79 rubel terhadap dolar dan 86 rubel untuk euro. Pemerintah Kremlin telah memerintahkan seluruh departemen untuk memotong pengeluaran sebesar 10 persen, dan meneruskan kebijakan yang diberlakukan pada 2015.

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev juga meminta seluruh departemen untuk melakukan revisi pada anggaran 2016, sebagai akibat dari harga minyak yang "tak terduga.” Situasi ini berdampak pada kenaikan harga pangan di negeri beruang itu. Sejumlah analisis memperkirakan, prioritas Rusia saat ini adalah menjaga perasaan warganya dari kesengsaraan ekonomi yang terus memburuk.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut