- ANTARA/Muhammad Adimaja
Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio khawatir, pengalihan fungsi Kalijodo sebagai RTH membuat tindak prostitusi dari kawasan itu menyebar ke berbagai tempat. "Kalau dilepas, dia (prostitusi) akan ke jalan. Malah penyebaran penyakit enggak bisa dikontrol," ujarnya.
Agus mengemukakan, prostitusi tak akan bisa lenyap. Lebih baik jika prostitusi itu di lokalisasi. Meski dia mengakui hal tersebut dilarang secara agama. "(Lokalisasi) supaya tidak ada penyebaran penyakit, supaya terkontrol. Itu (prostitusi) harus dikontrol," ujarnya.
![]()
Warga Kalijodo menerima surat peringatan terkait upaya penertiban oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Jejak Lokalisasi Ibu Kota
Jakarta sebenarnya pernah memiliki lokalisasi prostitusi. Berlokasi di daerah Kramat Jaya, Kelurahan Tugu, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Lokalisasi bernama Kramat Tunggak itu diresmikan saat Jakarta dipimpin Gubernur Ali Sadikin, pada 1970. Pada zamannya, lokalisasi itu disebut-sebut sebagai yang terbesar se-Asia Tenggara.
Namun kemudian, lokalisasi itu ditutup atas ide Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, pada 1999. Kini, bangunan Jakarta Islamic Centre berdiri di lahan bekas lokalisasi itu.
Pantauan VIVA.co.id, Kamis, 18 Februari 2016, para pedagang makanan dan minuman berjualan di sekitar Jakarta Islamic Centre. Sejumlah taksi tampak mangkal di depan gedung tersebut.
Sementara jalan di sampingnya ramai dilalui kendaraan."Kalau dulu, jalannya memang sempit kan cuma gang kecil, sini rumah situ rumah (kanan kiri jalan terdapat rumah). Karena rumah digusur, jadi lebar sekarang jalannya," ujar Ida Laila (40), warga setempat.
Ida merasakan kehidupan yang berbeda sebelum dan setelah Kramat Tunggak digusur.Saat lokalisasi masih ada, suara musik kerap terdengar hingga pukul 24.00 WIB. Namun, warga tak ada yang mengeluh.
Ketika itu pun, warga merasakan mencari uang lebih mudah. "Dulu ada Kramat Tunggak itu cari duit gampang. Jadi apa saja bisa. Misalnya saya dulu nyuci baju mereka yang kerja di sana (Kramat Tunggak)," ujarnya.
Namun saat ini, penduduk mengeluh sulit mencari pekerjaan. "Dagang enggak lama, digusur sama Satpol PP," dia melanjutkan.
Kini, menurut Ida, sudah tidak ada lagi prostitusi di Kramat Tunggak. Kegiatan syahwat pindah ke Tempat Pemakaman Umum Budi Dharma di Rawa Malang.