- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Kemungkinan gagal, menurut Ahok, bisa juga datang dari oknum Komisi Pemilihan Umum Daerah . Oknum diduga bisa menyatakan jumlah KTP sah digunakan sebagai syarat Ahok maju dari independen tidak mencapai 525.000 lembar, yang merupakan syarat minimal dukungan bagi calon independen. Keputusannya ini tentu akan membuat partai politik yang semula berniat mendukungnya, seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, kecewa.
Namun Ahok tetap memilih 'perahu' independen sebagai kendaraannya dalam pemilihan nanti. Alasannya, dia tak ingin mematahkan semangat para anak muda yang tergabung dalam komunitas itu. "Saya takut kepercayaan mereka hilang kepada politisi. Kepercayaan itu lebih mahal," katanya.
Ahok lantas menunjuk Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah DKI Heru Budi Hartono, sebagai calon pendampingnya dalam pemilihan nanti. Dia menilai Heru sebagai sosok birokrat yang jujur.
Mantan Wali Kota Jakarta Utara itu dianggap berani pasang badan memperjuangkan transparansi perencanaan dan penggunaan anggaran pemerintah. Hal tersebut sejalan dengan keinginan Ahok, untuk membuktikan bahwa kalangan birokrat tak selamanya korupsi dan tak memiliki kemampuan.
Heru menyatakan siap mendampingi Ahok. Meski risiko besar bakal mengadang, namun pria 50 tahun ini bersedia menjadi bakal cawagub DKI. Keluarga dan rekan-rekannya mendukung langkah dia dalam Pilgub nanti. "Semuanya dukung saya, semoga bisa," ujarnya.
Peneliti Politik IndoStrategi Pangi Syarwi Chaniago menilai keputusan Ahok menempuh jalur independen sebagai langkah berani. Menurut dia, jalur independen maupun lewat partai politik sama-sama berisiko. Dia melihat, jika Ahok memilih jalur partai, muncul kekhawatiran ditinggalkan partai pada menit-menit terakhir. Ketika itu terjadi, maka untuk melalui jalur independen juga sudah tidak bisa.
"Pengalaman ini banyak terjadi di beberapa daerah. Kepala daerah petahana justru enggak dapat perahu parpol," ujarnya.
Adapun PDI-P menghormati putusan Ahok memilih jalur independen .Status Ahok yang bukan kader PDI-P membuatnya tidak bisa menjadi petugas partai. Sebagai partai besar, PDI-P memiliki banyak kader berkualitas, sehingga tidak bergantung kepada sosok Ahok. "Kami tidak kekurangan kader," ujar Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPD PDI-P DKI, Gembong Warsono.