- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Turun ke lapangan pun dilakoni Ahmad Dhani. Ayah empat anak ini sempat mendatangi kawasan Kalijodo, Jakarta, Senin, 15 Februari 2016. Kedatangannya sebelum penggusuran lokasi yang dikenal sebagai kawasan prostitusi dan perjudian itu, untuk melihat lebih dekat kondisi warga di sana.
Bukan hanya Kalijodo, Dhani juga menyambangi Kelurahan Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, Minggu, 6 Maret 2016. Kedatangannya itu untuk silaturahmi ke masyarakat sekaligus menyosialisasikan rencananya maju Pilgub DKI.
Sebagai bakal cagub, Dhani memiliki visi misi untuk mementingkan rakyat. Menurutnya, hal yang penting adalah rakyat terhibur, tidak lapar dan tidak susah. Dia pun mengusung sejumlah program. Di antaranya, tidak ada artis tua yang terlantar, membangun satu juta perpustakaan, meningkatkan kredit usaha kecil menengah.
Dhani melihat, pemimpin saat ini baru sebatas membangun raga, belum sampai membangun jiwa. "Keberadaan saya di sini ingin membangun jiwa (masyarakat)," ujarnya.
Sandiaga punya pandangan berbeda. Dia melihat ada kekhawatiran di masyarakat mengenai minimnya lapangan pekerjaan dan banyaknya gelombang pemutusan hubungan kerja.Begitu juga mengenai kondisi pasar serta harga bahan pokok yang bergejolak. "Aspek ekonomi, terutama ketersediaan lapangan kerja dan harga bahan pokok itu fokus saya," ujarnya.
Lain lagi yang diusung Adhyaksa Dault. Jika memimpin Jakarta nanti, dia ingin menciptakan masyarakat Jakarta yang Teguh Beriman, sesuai tagline kota metropolitan ini. Dia memiliki visi membangun green governance di Ibu Kota. Di antaranya dengan mendirikan ruang-ruang terbuka hijau, memperketat pembangunan mal.
Ide itu muncul lantaran pembangunan Jakarta saat ini dinilainya menuju ke arah kapitalis sekuler. Hal itu tampak antara lain dari pembangunan mal di mana-mana, pembangunan pemukiman tidak memperhatikan fasilitas umum. "Ini yang saya sebut kapitalis menguntungkan para pengembang besar," ujar Adhyaksa.
Masalah pengembang besar tak luput dari sorotan Yusril. Pembangunan Muara Angke, misalnya.Dia menilai, pembangunan di daerah itu tidak jelas dan nyaris tenggelam oleh proyek-proyek reklamasi.
Sejumlah proyek untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, membantu pedagang kecil pun dianggapnya tak jelas. Dia juga mengkritisi soal kemacetan yang belum ada perubahan di Jakarta. "Saya ingin menyelesaikan persoalan-persoalan seperti itu," ujarnya.