SOROT 389

Dari Rumah hingga Barang Bekas

Bangunan rumah hasil program bedah rumah yang diprakarsai komunitas Zona Bombong. Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
Sumber :
  • VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian

“Karena di daerah kami distribusi zakat fitrah belum teratur. Kadang ada ustaz yang kaya, tapi karena sudah turun temurun dapat jatah lebih banyak. Sementara warga yang miskin justru dapat sedikit,” ujar alumni Pondok Pesantren Sunniah Salafiyah, Pasuruan, Jawa Timur ini.

img_title Berawal dari Kegelisahan

Tak berhenti, Gus Ajir dan teman-temannya pun membuat program Sodaqoh Kolektif. “Jadi kami menitipkan kotak amal di warung-warung. Kemudian kotak itu kami ambil di akhir bulan,” ujarnya menambahkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hasil sedekah kolektif itu awalnya hanya digunakan untuk membantu warga yang membutuhkan. “Misalnya ada warga yang sakit, kami bantu dengan uang itu,” ujarnya mengenang.

img_title Meringankan dengan Ambulans

Saat mendistribusikan bantuan itu, ia sering menemukan rumah warga yang kondisinya memprihatinkan. Berangkat dari sana akhirnya ia dan teman-temannya sepakat untuk menggunakan dana hasil sodaqoh kolektif tersebut untuk membantu memperbaiki rumah warga.

”Awalnya kami ragu-ragu. Namun, akhirnya kami nekat dengan dana seadanya,” ujar bapak satu anak ini.

img_title Menampung yang Tak Beruntung

Ia mengatakan, program bedah rumah berangkat dari keprihatinan, karena masih banyak warga miskin yang tinggal di rumah yang tidak layak. Sementara, warga yang tergolong mampu seringkali abai dengan kondisi tersebut.

“Kami sering menemukan, tetangga dari warga yang kami bantu merupakan orang kaya,” ujarnya. Selain itu, ia menganggap, program Bedah Rumah merupakan bagian dari dakwah.

“Dakwah itu bukan hanya bicara surga dan neraka atau halal dan haram. Tapi terjun ke masyarakat, menyelami masalah mereka dan ikut mencarikan jalan keluarnya.”

Selanjutnya...Selalu Ada Jalan

Selalu Ada Jalan

Gus Ajir mengatakan, untuk mendapatkan program tersebut, komunitasnya tak memberikan syarat yang susah dan berbelit. Warga tinggal mengirim pesan singkat atau telepon.

Setelah itu, tim dari Zona Bombong akan melakukan survei. Jika layak dan memenuhi syarat, rumah warga tersebut akan dibongkar dan langsung dibangun.

Hal itu dilakukan setelah mereka berkoordinasi dengan pemerintah dan warga desa. “Kami selalu melibatkan warga sekitar,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

http://media.viva.co.id/thumbs2/2016/03/25/56f538e335851-muhamad-ajir-ubaidillah-atau-gus-ajir_663_382.JPG

Muhamad Ajir Ubaidillah atau Gus Ajir, penanggungjawab program Bedah Rumah Zona Bombong. Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut