- VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
Suharsono dalam kesempatan itu sempat pula menanggapi angka kekerasan seksual yang disebut-sebut meningkat. Menurutnya, angka tersebut naik turun. Hanya dia tak menyebut rincian dengan alasan bahwa data harus disiapkan dahulu sebelum dipublikasikan.
Selanjutnya...Hasil Riset
Riset
Institute of Alcohol Studies (IAS) di Inggris pernah mengeluarkan laporan dan rekomendasi mengenai hubungan miras dengan perilaku kriminal termasuk kekerasan seksual. Inggris dicap IAS termasuk negara yang kasus kekerasan seksualnya patut menjadi perhatian.
Laporan yang dirilis pada tahun 2014 tersebut mengkritik Undang Undang Kejahatan Seksual tahun 2003 yang dianggap kurang komprehensif mengatur soal kasus-kasus kekerasan seksual di negara tersebut. Pemerintah Inggris dianggap kurang jeli melihat bahwa alkohol yang cukup bebas dijual meski dengan aturan umur, bisa menjadi pemicu kekerasan seksual baik terhadap orang yang dikenal maupun tidak.
Dalam survei yang dilakukan tahun 2011 hingga 2012, ditemukan bahwa kasus kekerasan termasuk kekerasan seksual dilakukan oleh pelaku yang menenggak alkohol. Hal tersebut tergambar dari jawaban para responden. IAS lantas menegaskan bahwa dampak alkohol terhadap perilaku ini patut disikapi untuk menekan angka kejahatan seksual di negara tersebut.
Namun, survei IAS ini tak bisa diterima begitu saja. IAS sendiri mengakui bahwa memang hingga tahun 2014 belum ada penelitian ilmiah berupa angka statistik resmi dari lembaga berwenang yang menunjukkan hubungan penyalahgunaan alkohol dengan kekerasan seksual yang terjadi di Inggris. Analisis survei 2011-2012 lalu dianggap kurang mumpuni menjadi dasar argumen pengambilan kebijakan.Â
Hipotesis peredaran minuman keras berbanding lurus dengan tingkat pemerkosaan tak berlaku di Amerika Serikat. Negara ini lumayan bebas dalam hal peredaran minuman keras namun angka statistik menunjukkan, masih berada di luar 10 besar negara dengan tindak pidana pemerkosaan tertinggi. Negara ini masih berada di bawah posisi India dan sejumlah negara di Eropa.Â
Kasus menarik di Swedia. September 2012, BBC menurunkan laporan bahwa angka kekerasan seksual di Swedia yang paling tinggi di Eropa. Namun Klara Selin, sosiolog dari Komisi Nasional Pencegahan Tindak Pidana Kejahatan dari Stockholm, Swedia, menyebutkan, Swedia punya kultur yang terbuka soal melaporkan dugaan kekerasan seksual.