- VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
“Mungkin satu dua kasus ada yang seperti itu (dipicu alkohol). Tapi secara keseluruhan tidak bisa dilihat seperti itu karena khawatirnya kalau melihatnya seperti itu yang kita bereskan mirasnya bukan pemerkosaannya,” kata Azriana.
Azriana kembali mengingatkan bahwa dalam kultur Indonesia, perempuan cenderung ditempatkan sebagai pihak yang bisa menjadi objek pelampiasan termasuk soal seksual. Dalam kerangka berpikir demikian maka dimungkinkan adanya niat-niat yang ingin mengeksploitasi para calon korban.
Selanjutnya...Sisi Medis
Sisi Medis
Psikolog dari Universitas Indonesia (UI), Vera Itabiliana Hadiwidjojo, menjelaskan banyak faktor yang menyebabkan adanya kasus-kasus kekerasan seksual. Alkohol benar bisa menjadi faktor meskipun perlu dicatat, bukan yang utama. Yang utama, anak dan remaja tidak dibekali dengan pendidikan seks yang seharusnya bisa membuat mereka paham dan meletakkan seksualitas pada porsinya.
Dengan kondisi tak siap, remaja dan anak lalu terpapar dengan informasi yang belum layak untuk usia mereka seperti pornografi dan tontonan bernuansa kekerasan. Kondisi psikologis anak pun terganggu.
“Dengan minimnya pendidikan seksualitas tadi, apa yang mereka lihat ini dapat ditanggapi secara salah sehingga dapat memicu perilaku yang salah pula,” kata Vera Itabiliana.
Ditemui dalam kesempatan berbeda, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kementerian Kesehatan, dr. Fidiansyah SpKJ, mengatakan, untuk mengetahui pasti hubungan alkohol dengan kekerasan seksual maka harus melalui riset yang ilmiah. Sayangnya hal tersebut diakuinya masih kurang di Indonesia.
Fidiansyah melanjutkan, minuman keras dan obat-obatan memang bisa memicu perilaku, perasaan dan pikiran manusia namun harus pada dosis tertentu. Di sisi lain, alkohol pada dosis yang sama, pengaruhnya bisa berbeda kepada setiap orang.
“Miras hanya segelintir saja, bisa dibilang pemicu, bagian dari faktor yang ikut memengaruhi. Tapi bukan satu-satunya faktor,” kata Fidiansyah. [aba]