- VIVA.co.id/Suparman
"Kita sediakan mi tanpa formalin. Untuk kulit, kita sudah tahu mana yang jelek, mana yang bagus, mana yang pakai obat, mana yang asli. Untuk kaki sapi kita ngambil yang segar yaitu saat selesai penyembelihan, kita ngambil di RPH Caringin, dari luar Garut dan Bogor," katanya.
Tak hanya itu, ciri khas baik pengemasan dan penyajian pun menjadi prioritas utama. Bahkan, kedai Mih Kocok Mang Dadeng di Jalan Ahmad Dahlan ini tetap menjadi perhatian utama meski telah mendirikan banyak cabang.
"Kenapa bisa bertahan? Kita menjaga mutu dan kualitas. Kita buka cabang namun tetap beda rasa, penyajian jadi enggak bisa bertahan lama. Paling kuat 10 bulan sudah tutup, karena ada perbedaan pengelolaan kuah dan air," ujarnya.
Ia pun menambahkan bahwa Mih Kocok Mang Dadeng sangat menjaga kualitas cita rasa dan penyajian. Menurutnya, semua orang mungkin bisa membuat mi kocok, namun tiap orang menggunakan takaran bumbu dan rempah yang berbeda. Itulah sebabnya, karyawan-karyawan baru yang bekerja di sana selalu dibimbing untuk membuat mi kocok sesuai dengan resep almarhum sang empunya.
Ada 11 orang karyawan senior dari total 25 karyawan yang ditunjuk langsung oleh Mang Dadeng (alm) dan dipercayakan untuk meracik kuah kaldu.
Kepopuleran mi kocok ini juga telah membuat banyak pihak menawarkan kerja sama membantu membuka cabang di sejumlah negara.
"Jangan di kota, luar negara juga ada, Malaysia, Brunei bahkan Jepang dulu nawar join sekitar tahun 2010. Tapi belum ditanggapi, karena belum tentu bisa kayak di sini. Di sana bahan susah dan pasti ada perbedaan di air dan rasa," katanya.
Artis dan Pejabat Jadi Pelanggan Setia
Bukan rahasia lagi bahwa Mih Kocok Mang Dadeng mempunyai pelanggan baik dari dalam maupun luar negeri. Bahkan mi kocok yang usianya telah mencapai 58 tahun ini sangat diminati para figur publik, mulai dari mereka yang termasuk dalam kalangan artis hingga pejabat Istana Negara.
Agus mengungkapkan, banyak orang terkenal, seperti artis, kepala daerah hingga menteri yang pernah mencicipi kuliner yang dipatok seharga Rp30 ribu itu. "Ada Alex Nurdin, Rieke Diah Pitaloka, Aher, Mensos, Ridwan Kamil. Kemarin-kemarin Teten Masduki, yang sering itu Alex Nurdin. Yang belum itu JK dan Jokowi, ditunggu," ujarnya.