SOROT 419

Daya Menegah Bala

Petugas TNI mencari korban bencana banjir bandang di Garut, Jawa Barat. Foto: ANTARA/Wahyu Putro A
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

VIVA.co.id – Rasa was-was masih menggelayuti masyarakat Desa Mlaya, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Mereka khawatir bencana longsor akan datang kembali menimpa pemukiman mereka. Lantaran itu, para warga enggan kembali ke rumah masing-masing.

img_title Longsor Banjarnegara: Hari ke-9, Titik Pencarian Korban Fokus Dua Sektor Kerahkan 24 Alat Berat

Sudah lebih dari tiga pekan 421 warga desa itu tinggal di posko pengungsian. Mereka mengungsi usai longsor melanda desa tersebut pada 28 September 2016. "Setiap hari kami was-was pulang ke rumah. Apalagi saat hujan lebat datang  warga memilih berkumpul di pengungsian, " ujar Ismu (60), warga setempat, kepada VIVA.co.id, Kamis 20 Oktober 2016.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ratusan warga dari dua dusun itu, yakni Kaliwadas dan Sidakarya, terus didampingi petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Tagana, TNI, Polri dan sejumlah relawan. Dapur umum berukuran besar pun telah berdiri untuk mengolah makanan guna memenuhi kebutuhan para pengungsi sehari-hari.

img_title Hari ke-8 Pencarian, 16 Korban Longsor Banjarnegara Masih Belum Ditemukan

Bukan hanya penanganan korban longsor.  Aparat gabungan juga menangani  dampak longsor lainnya. Di antaranya membangun kembali tanggul yang longsor, penanganan keran air bersih hingga menutup rekahan-rekahan baru yang berpotensi menimbulkan longsor susulan.

Seiring kerap munculnya  retakan baru, Badan Geologi merekomendasikan agar wilayah itu tak lagi dijadikan pemukiman. Pemerintah kabupaten (Pemkab) Banjarnegara kini sedang mencari lahan baru untuk relokasi warga.

img_title Longsor Banjarnegara, 424 Warga Direlokasi ke Tempat Baru

Relokasi bukan perkara mudah. Apalagi memindahkan warga yang  sudah tinggal lama dan menggantungkan hidup di wilayah itu. Hal paling penting dilakukan, menurut Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yaitu mempersuasi masyarakat yang tinggal di wilayah bencana dengan pendekatan kultur. Beberapa titik lokasi masih disurvei.

“Harus ada teknis administratif dan scientific yang teruji, bahwa di sana boleh melakukan itu (digunakan untuk pemukiman). Kalau tidak maka jangan melangkah,” ujar Ganjar.

Antisipasi yang dilakukan pemerintah pun tak sebatas itu. Pemkab setempat juga melatih kemampuan mitigasi bencana atau upaya untuk mengurangi bencana di masyarakat. Di antaranya melakukan kegiatan simulasi bencana, pembentukan desa tangguh bencana serta memberikan pemahaman mendalam mengenai bencana.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Petugas PMI menggunakan kendaraan Haglund di lokasi banjir Garut

Petugas PMI menggunakan kendaraan Haglund melintasi medan berlumpur di lokasi bencana banjir bandang aliran Sungai Cimanuk di Kampung Cimacan, Tarogong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Foto: ANTARA/Wahyu Putro A

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut