SOROT 421

Menguji Demokrasi di Amerika

Capres AS, Hillary Clinton dan Donald Trump saat mengikuti debat ketiga di Las Vegas, Nevada, AS
Sumber :
  • REUTERS/Mike Blake

Ia kembali mengenakan pakaian desain dari Ralph Lauren. Baju warna putih ketika debat seakan menjadi tanda untuk mengingatkan ke masa lalu. Ketika warna putih disimbolkan untuk perjuangan mendapatkan hak memilih.

img_title Menteri Luar Negeri AS Era Trump Dinyatakan Melanggar Aturan Etika

Seperti pilpres AS periode sebelumnya. Kualitas kandidat akan menjadi sorotan. Tahun ini, sebagian kalangan menilai kualitasnya menurun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pakar hubungan internasional, Arry Bainus, tidak menampiknya. Menurut dia, masa pilpres Negeri Paman Sam, isu skandal mendominasi kampanye ketimbang program kerja.

img_title Biden dan PM Jepang Rancang Persatuan Hadapi China

“Menurut saya, pilpres kali ini kualitasnya menurun. Kedua kandidat saling menjatuhkan, bukan karena program kerja yang diusung melainkan skandal,” kata Arry kepada VIVA.co.id, Kamis, 3 November 2016.

Ia mengungkapkan, meski Amerika adalah negara demokrasi, sejatinya mereka saat ini tengah diuji.

img_title Pangeran Philip Meninggal Dunia, Trump: Kerugian untuk Inggris Raya

Trump atau Hillary?

Pemilu AS berlangsung pada 8 November 2016 waktu AS. Sejumlah kalangan mulai berhitung, siapa kandidat yang akan menduduki Gedung Putih, menggantikan Barack Obama.

Andaikata Trump terpilih, maka kelompok konservatif yang menang. Namun, kata dia, ada masalah yang mengganjal bila taipan properti itu benar-benar menang.

“Salah satu program Trump mendirikan pagar pembatas dekat Meksiko dan melarang para imigran masuk. Ini sudah kebijakan ekstra-konservatif. Di dalam tubuh Partai Republik suaranya terbelah,” ungkap pria yang kini menjabat Wakil Rektor Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat, itu.

Program atau kebijakan Donald Trump yang kontroversial itu dan mengusung slogan “Make America Great Again”, menjadikan kampanye Trump langsung menohok berbagai kalangan.

Jika terpilih, Trump berjanji akan membangun tembok di perbatasan dengan Meksiko untuk mencegah  masuknya imigran ilegal, dengan biaya pembangunan yang dibiayai pemerintah Meksiko.
 
Tak hanya itu, Trump bakal menghapuskan keluarga berencana. Ia juga akan membuat database dan melarang masyarakat Muslim untuk singgah serta menetap di AS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Taipan New York ini pun diduga melakukan pelecehan seksual, baik secara verbal maupun aktivitas, terhadap 12 perempuan. Ia sering didapuk sebagai retorika pembakar dan orang yang sering menggertak dengan kemarahan.

Menurut Arry, rekam jejak Trump sebenarnya lebih ke pengusaha ketimbang politisi. Jadi, jangan heran bila Trump terpilih akan memposisikan negara sama dengan perusahaan. “Dia tidak terbiasa dengan politik demokrasi,” tuturnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut