- REUTERS/Mike Blake
Sementara itu, apabila mantan Ibu Negara terpilih, Arry melihat situasi politik di AS cenderung tenang. Menurut dia, peristiwa ini pernah terjadi saat pilpres 1984.
Saat itu, Geraldine Anne Ferraro pernah didapuk menjadi calon wakil presiden pertama di AS, juga berasal dari Partai Demokrat. Ferraro adalah seorang pengacara dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS. Dalam pilpres 1984, ia mendampingi calon presiden Walter Mondale.
Pasangan ini dipandang sebagai “underdog” yang berasal dari Partai Demokrat. Tak hanya itu, Ferraro satu-satunya warga Amerika keturunan Italia yang menjadi calon wapres.
Namun sayang, pasangan Mondale-Ferraro ini takluk oleh pasangan petahana Presiden Ronald Reagan dan Wakil Presiden George Herbert Walker Bush. Ferrero meninggal dunia pada 2011 di usia 76 tahun akibat penyakit multiple myeloma.
“Terpilihnya Hillary tidak ada masalah. Warga AS bisa menerimanya. Ini juga membuka kaum perempuan untuk lebih banyak bergerak di politik,” tuturnya.
Tapi, ada dua peristiwa penting bila Hillary menjadi Presiden AS. Pertama, Hillary adalah perempuan AS pertama yang menjadi presiden. Kedua, mantan Menteri Luar Negeri AS ini merupakan istri mantan presiden pertama yang menjadi presiden.
Mengenai kemungkinan politik uang dalam pilpres AS, Arry menegaskan kalau hal itu sangat kecil terjadi.
“Amerika itu negara dewasa. Mereka kiblat demokrasi. Saya tidak melihat ke arah sana (politik uang). Yang pasti, seperti sudah saya katakan sebelumnya, saat ini demokrasi Amerika sedang diuji,” kata dia.
Hillary Clinton seakan tak ingin kalah kontroversial dari rivalnya. Saat menjabat sebagai menteri Luar Negeri AS, ia sangat teledor menggunakan akun surat elektronik (email) pribadinya untuk mengirim data rahasia negara.
Ia juga bertanggung jawab atas jebolnya keamanan Kedutaan Besar AS di Tripoli, Libya yang menyebabkan penyerangan oleh warga lokal hingga mengorbankan banyak warga AS, termasuk sang duta besar, J. Christopher Steven.
Belum lama ini, Hillary diundang berbicara di depan para bankir ternama di Bursa Wall Street dengan bayaran sangat tinggi. Padahal, dalam kampanyenya, ia kerap menitikberatkan permasalahan ketimpangan ekonomi yang terjadi di negaranya.
Terakhir, Hillary secara tegas menuduh Rusia sebagai pihak yang terlibat dalam skandal bocornya dokumen kampanye Partai Demokrat. Selain itu, terkuaknya sejumlah email pribadi dari Tim Kampanye Hillary Clinton oleh WikiLeaks, juga diklaim bagian dari konspirasi Moskow.