SOROT 421

Menguji Demokrasi di Amerika

Capres AS, Hillary Clinton dan Donald Trump saat mengikuti debat ketiga di Las Vegas, Nevada, AS
Sumber :
  • REUTERS/Mike Blake

Sementara itu, apabila mantan Ibu Negara terpilih, Arry melihat situasi politik di AS cenderung tenang. Menurut dia, peristiwa ini pernah terjadi saat pilpres 1984.

img_title Donald Trump dan Kedua Anaknya Akan Diperiksa Terkait Penipuan

Saat itu, Geraldine Anne Ferraro pernah didapuk menjadi calon wakil presiden pertama di AS, juga berasal dari Partai Demokrat. Ferraro adalah seorang pengacara dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS. Dalam pilpres 1984, ia mendampingi calon presiden Walter Mondale.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pasangan ini dipandang sebagai “underdog” yang berasal dari Partai Demokrat. Tak hanya itu, Ferraro satu-satunya warga Amerika keturunan Italia yang menjadi calon wapres.

img_title Donald Trump Ambil Surat Cinta Kim Jong Un dari Gedung Putih

Namun sayang, pasangan Mondale-Ferraro ini takluk oleh pasangan petahana Presiden Ronald Reagan dan Wakil Presiden George Herbert Walker Bush. Ferrero meninggal dunia pada 2011 di usia 76 tahun akibat penyakit multiple myeloma.

“Terpilihnya Hillary tidak ada masalah. Warga AS bisa menerimanya. Ini juga membuka kaum perempuan untuk lebih banyak bergerak di politik,” tuturnya.

img_title 5 Fakta Tewasnya Jenderal Qassem Soleimani, Iran Akan Balas Dendam?

Tapi, ada dua peristiwa penting bila Hillary menjadi Presiden AS. Pertama, Hillary adalah perempuan AS pertama yang menjadi presiden. Kedua, mantan Menteri Luar Negeri AS ini merupakan istri mantan presiden pertama yang menjadi presiden.

Mengenai kemungkinan politik uang dalam pilpres AS, Arry menegaskan kalau hal itu sangat kecil terjadi.

“Amerika itu negara dewasa. Mereka kiblat demokrasi. Saya tidak melihat ke arah sana (politik uang). Yang pasti, seperti sudah saya katakan sebelumnya, saat ini demokrasi Amerika sedang diuji,” kata dia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hillary Clinton seakan tak ingin kalah kontroversial dari rivalnya. Saat menjabat sebagai menteri Luar Negeri AS, ia sangat teledor menggunakan akun surat elektronik (email) pribadinya untuk mengirim data rahasia negara.
 
Ia juga bertanggung jawab atas jebolnya keamanan Kedutaan Besar AS di Tripoli, Libya yang menyebabkan penyerangan oleh warga lokal hingga mengorbankan banyak warga AS, termasuk sang duta besar, J. Christopher Steven.

Belum lama ini, Hillary diundang berbicara di depan para bankir ternama di Bursa Wall Street dengan bayaran sangat tinggi. Padahal, dalam kampanyenya, ia kerap menitikberatkan permasalahan ketimpangan ekonomi yang terjadi di negaranya.
 
Terakhir, Hillary secara tegas menuduh Rusia sebagai pihak yang terlibat dalam skandal bocornya dokumen kampanye Partai Demokrat. Selain itu, terkuaknya sejumlah email pribadi dari Tim Kampanye Hillary Clinton oleh WikiLeaks, juga diklaim bagian dari konspirasi Moskow.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut