- Istimewa/Viva Militer
Jika operasi pembunuhan terhadap seseorang di negara lain tidak bisa dilakukan oleh agen intelijen dari negara bersangkutan, maka cara yang bisa ditempuh adalah merekrut agen yang merupakan warga negara dari lokasi sang target berada.
Ia pun bersedia menceritakan seluk-beluk merekrut seorang agen yang berstatus warga negara asing. Menurut Fauka, hal itu bisa dilakukan melalui observasi yang mendalam terhadap calon agen. Misalnya, seseorang yang ingin direkrut harus berkarakter khusus.
"Kalau tujuannya membunuh, maka karakter dia harus berani. Kemudian, dilihat latar belakang keluarganya. Baru lah didoktrin, dibentuk. Kalau dia sudah matang langsung terjun ke lapangan,” ujarnya menjelaskan.
Menurut dia, cara lain untuk memotivasi calon agen untuk melakukan pembunuhan demi pemerintahan negara lain, adalah dengan uang. "Dengan janji akan diberikan uang dalam jumlah besar, maka seseorang bisa dimanfaatkan untuk membunuh,” ujarnya menambahkan.
Fauka juga mengaku jika banyak warga Indonesia yang telah direkrut oleh agen intelijen asing, untuk melakukan operasi-operasi intelijen yang menguntungkan pemerintahan negara lain. Meski begitu ia enggan menjelaskan.
“Jadi agen itu mutlak harus menjaga rahasia sekeras-kerasnya. Sampai mati tidak akan membongkar rahasia. Bahkan, ada motto di intelijen, ‘berhasil tidak dipuji, gagal dicaci-maki, dan hilang tak dicari,” ujarnya.
Karena kerahasiaan tingkat tinggi ini, keluarga pun tidak diperkenankan mengetahui profesi seorang agen. “Istri tidak pernah tahu kalau saya jadi agen. Kita sembunyikan dari keluarga karena risikonya sangat tinggi. Terkadang, ada satu-dua, ya, oknum yang tidak bisa menjaga kerahasiaan.”
Singapura, Gudang Informan Intelijen
Mantan Penasihat Menteri Pertahanan Bidang Intelijen era Matori Abdul Djalil (Alm), Marsda (Purn) Prayitno Ramelan mengatakan, Singapura adalah negara yang memiliki informan intelijen paling lengkap.
Menurut Pray, sapaan akrab Prayitno, Negeri Singa membina informan-informannya mulai dari level pekerjaan paling bawah, seperti supir taksi di bandara atau petugas kebersihan. Mereka kemudian dibuat berkelompok.
“Kelompok ini yang melapor ke atasannya, yaitu handler atau pengendali. Dari situ akan dilaporkan lagi ke tingkat yang lebih tinggi. Jadi, beda antara informan dan intelijen,” kata Pray kepada VIVA.co.id, Jumat 24 Februari 2017.