- VIVA.co.id/Purna Karyanto
"Kalau sudah di rumah, ya seperti ibu-ibu lain. Pake daster, pokoknya ‘The real ibu rumah tangga, ‘" candanya.
Di ranah domestik menjadi ibu rumah tangga, lantas di luar rumah menjadi petarung. Begitu lah keseharian Linda.
Dia rutin berlatih di Han Fighting Academy dari sore hingga malam. Namun, pada siang hari Linda mengajar privat beragam jenis olahraga. Mulai dari muay thai, jiu jiutsu, boxing, wushu hingga MMA.
"Jadi sore di Manahan. Kebetulan suami juga atlet. Terus anak-anak, Rickson Legawa dan Gibran Alfarizi, juga sudah berlatih di sini ,Han Fighting Academy,. Mereka umur 12 tahun dan 10 tahun. Jadi kalau latihan bareng-bareng," jelas dia.
Linda termasuk dalam wanita yang telah menginspirasi banyak perempuan untuk belajar bela diri. Terbukti, jumlah peserta didiknya di Han Academy dari kalangan perempuan meningkat.
![]()
Linda Darrow dan keluarga saat berlatih di Han Fighting Academy, Kota Solo, Jawa Tengah. ( VIVA.co.id / Fajar Sodiq )
Ada sekitar 30 wanita dari 200 peserta yang belajar beladiri di Han Academy. Linda merasa bersyukur dengan pencapaian tersebut.
"Dari puluhan perempuan itu ada dari kalangan pekerja kantoran, pekerja lapangan. Mereka biasanya belajar beladiri untuk pertahanan. Bagus dengan kondisi itu. Perempuan semakin memahami bahwa ada banyak bahaya di jalanan. Biasanya yang belajar itu yang kerjanya masuk pagi dan pulang malam jadi bias untuk jaga-jaga kalau ada gangguan mengancam," jelas Linda.
Sudah seharusnya, lanjut dia, perempuan tak lagi ragu memilih jalan hidup yang selama ini akrab dengan pria, salah satunya sebagai petarung di atas ring. Menurutnya, perempuan masa kini harus bisa mandiri dan memiliki mental yang kuat.
Perempuan hebat juga harus berani berkompetisi. "Seorang perempuan harus bisa mandiri, mental yang kuat. Berani berkompetisi, berpikiran positif. Dan harus agresif di segala bidang, fleksibel jangan pilah pilah bidang," tutur Linda. (ren)