- Antara/R. Rekotomo
"Dulu orang kalau mau ke sana takut. Sekarang sedikit demi sedikit dibenahi. Kehidupan sosialnya juga ditata kembali," tuturnya di Semarang, Kamis 25 Mei 2017.Â
Dari sisi pelayanan, wisatawan kini juga telah dipermudah dengan transportasi ramah lingkungan di kawasan Kota Lama. Seperti banyaknya penyewaan sepeda ontel, skuter tua hingga becak tua untuk mengelilingi lorong-lorong kota tua.Â
Selanjutnya, Destinasi InternasionalÂ
Destinasi Internasional
Revitalisasi kota-kota tua tidak hanya terjadi di Semarang. Pemerintah Kota Bandung dapat dianggap berhasil melakukan pelestarian peninggalan  arsitektur Belanda di kawasan kota tua mereka untuk menarik wisatawan.Â
Kawasan kota tua Bandung, Jalan Asia Afrika dan Braga, telah menjadi destinasi wisata domestik dan internasional karena nuansa kota zaman  pemerintahan Belanda yang masih kental.Â
Sepanjang jalan berjejer gedung-gedung berarsitektur Belanda abad ke-19, mulai dari Gedung Keuangan, Hotel Grand Preanger, Hotel Savoy Homan, Museum Konferensi Asia Afrika, kantor Bank OCBC NISP, dan Gedung Merdeka Jalan Asia Afrika menjadi saksi sejarah Konferensi Asia Afrika.Â
Lokasi ini kerap digunakan untuk acara kenegaraan, dan masih menyisakan simbol-simbol acara internasional. Nuansa Belanda juga begitu kental di tiap bangunan di Jalan Braga. Gedung-gedung pemerintahan Hindia Belanda tetap berdiri kokoh dan terawat.Â
![]()
Gedung Merdeka, salah satu bangunan tua yang berada di Jalan Braga, Bandung. (VIVA.co.id/Adi Suparman)
Sejumlah gedung tua di Jalan Braga telah berubah fungsi menjadi tempat hiburan, hotel, dan restoran, sehingga membuat kota tua Bandung tetap hidup dan ramai. Braga, menjadi salah satu tempat utama warga Bandung dan wisatawan nongkrong menikmati hiburan malam.Â
Pemkot Bandung telah menetapkan bangunan-bangunan tua yang dapat dikategorikan sebagai cagar budaya kelas A di kawasan alun-alun, dan Jalan Asia Afrika. Dari 637 bangunan, sekitar 100 bangunan ditetapkan sebagai bangunan kelas A, yaitu berusia 50 tahun, memiliki nilai sejarah, nilai pengetahuan, arsitektur, dan sosial budaya.Â
Kepala Bidang Pengkajian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Cep Dahyat, mengungkapkan, konsep revitalisasi oleh Pemkot Bandung, dilakukan semaksimal mungkin. Diperbaiki sesuai keadaan asli, termasuk materialnya, hingga pemilihan kayu harus sama usianya.
Â
Pemkot membentuk tim cagar budaya, yang terdiri atas para ahli dari akademisi, arsitek, pengembang, budayawan, dan sejarawan. Pemkot Bandung mengucurkan dana revitalisasi bangunan kepada pemilik bangunan bisa mencapai Rp200 juta per kasusnya.Â