- ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
VIVA.co.id – Ibarat tubuh, maka Jalan Daendels adalah pembuluh nadinya Pulau Jawa. Ia memanjang sejauh 1.000 kilometer dari Anyer di ujung barat hingga ke Panurukan di ujung timur.
Jalan ini lah yang telah memperpendek jarak antara Batavia-Surabaya, dari 40 hari menjadi cuma sepekan.
Dua abad silam, Jawa menjadi satu-satunya koloni Belanda-Prancis yang belum jatuh ke tangan Inggris. Karena itu, Jawa menjadi perhatian serius Raja Belanda, Louis Bonaparte.
Adik dari Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte ini khawatir jika Pulau Jawa akan ikut dikuasai oleh Inggris. Atas itu, pada 1807 ia mengutus seorang komandan dari legiun asing Prancis bernama Herman Willem Daendels.
![]()
Sosok Herman Willem Daendels. (VIVA.co.id/ Dody Handoko)
Daendels jelas bukan orang sembarangan. Sebab, sebelum ia diputuskan bertugas ke Hindia Belanda, pria kelahiran Prancis pada 21 Oktober 1762 ini telah membuktikan kerjanya dengan mempertahankan Provinsi Friesland dan Groningen dari serangan Prusia.
Berawal dari mandat itu lah, Daendels akhirnya mengarungi laut. Sejumlah catatan sejarah menyebut, jika pria ini harus menempuh waktu 10 bulan di laut sebelum akhirnya tiba di Batavia pada 5 Januari 1808, dan kemudian menjadi gubernur Hindia Belanda sembilan hari kemudian menggantikan AH Wiese.
Selanjutnya, Jalan Darah
Jalan Darah
Sejarawan yang meneliti hubungan antara Prancis dan Hindia Timur, Djoko Marihandono dalam sebuah makalahnya, Mendekonstruksi Mitos Pembangunan Jalan Raya Cadas Pangeran 1808: Komparasi Sejarah Dan Tradisi Lisan, menyebutkan bahwa setibanya di tanah Jawa, Daendels terkejut dengan kondisi jalan di pulau ini.
Saat itu, Daendels merasa jauh berbeda dengan kondisi jalan yang dibangun oleh Napoleon Bonaparte yang menghubungkan Paris dengan 25 kota lain di Eropa, termasuk jalur transnasional Paris-Amsterdam. Pada sumber lain, disebutkan Daendels juga terilhami oleh jalan pada masa Romawi, Cursis Publicus, yang menghubungkan Roma dengan kota jajahannya.
Ditambah lagi dengan kesiapsiagaan menghadapi gempuran Inggris yang dikabarkan akan merangsek tanah Jawa. Situasi itu akhirnya membuat Daendels berpikir keras agar membuat jalur penghubung antara barat tanah Jawa dengan ujung timurnya.
![]()
Gedung Kemenkeu yang dulu digunakan sebagai kantor Daendels pada tahun 1920. (kitlv.nl)