- VIVA.co.id/Dhana Kencana
"Mainan ini lagi booming saja makanya dimainkan. Enggak lama lagi juga fidget spinner-nya enggak akan dimainkan lagi," ucap Ibu Rumah Tangga (IRT) di Depok tersebut.
Sedangkan ibu dua putra bernama Astuti berpendapat bahwa fidget spinner membosankan karena hanya berputar, namun putranya bernama Diffy yang masih berusia 7 tahun justru menyukainya. Itu lantaran menurut pengakuan Diffy, main fidget spinner bisa menghilangkan stres.
Mainan itu, dia menambahkan, juga memberi manfaat seperti membuat putranya menjadi lebih tenang, memberi kepuasan sensorik dan sensasi dari setiap putaran fidget spinner serta membantu bersosialisasi dengan teman-temannya. "Sampai mulutnya kadang ikut muter-muter saking seriusnya. Kalau ketemu teman-temannya jadi saling berbagi cerita bagaimana keunggulan fidget spiner miliknya," kata Astuti.
Hingga kini, putranya memiliki lima fidget spiner dengan beragam model dan warna. Adapun harga mainan itu termurah Rp7.000 dan termahal mencapai ratusan ribu rupiah. Â
Karyawan swasta di kawasan Jakarta Timur itu menuturkan, tidak pernah membatasi putranya main fidget spinner lantaran tidak pernah kebablasan dan bisa memangkas waktu main gadget. Terpenting, tidak mengganggu jam belajar Diffy.
"Belajarnya malam, kalau siang dibebaskan main. Jadi tidak mengganggu jam belajarnya," katanya.
Selanjutnya...Tanggapan Sekolah
Tanggapan Sekolah
Soal main fidget spinner di sekolah, Elissa Sinaga, Wali Kelas XI MIPA SMAK 6 Penabur, Jakarta Utara, tidak mempermasalahkannya. Dia pun mengaku tak mau ambil pusing karena alat tersebut seperti pengganti pulpen atau penggaris yang biasa diputar siswa saat di kelas.
Bahkan, ada siswa yang memainkan fidget spinner, ketika ditanya soal bisa menjawab dengan baik. Meski demikian, tidak bisa digeneralisir bahwa alat itu bisa meningkatkan konsentrasi atau fokus siswa. Menurutnya, alat itu mungkin saja hanya berlaku pada anak dengan tipe kinestetik, yang memerlukan olah tubuh untuk meningkatkan konsentrasi.
"Menurut saya, tidak semua anak bisa konsentrasi dengan cara itu, perlu ada penelitian. Ada anak yang perlu melakukan gerakan, baru bisa menyimak dengan baik. Tapi ada juga harus dalam keadaan tenang, baru bisa menyimak," ujar guru mata pelajaran Bahasa Indonesia ini.