- VIVA.co.id/Dhana Kencana
Misalnya, penggunaan yang berlebihan sehingga mengorbankan waktu atau kegiatan rutin seperti makan dan belajar. Selain itu, jika mainan tersebut justru dijadikan simbol status sosial karena harganya mahal, mengganggu dan menyakiti orang lain.
Seperti kasus yang baru-baru ini menimpa bocah laki-laki berusia 11 tahun nyaris kehilangan bola matanya karena ingin pamer trik bermain fidget spinner kepada teman-temannya. Molly, ibu bocah laki-laki itu, mengatakan bahwa anaknya melempar fidget spinner sedikit lebih tinggi tapi tidak berhasil menangkap kembali dan terjatuh di sudut matanya.
"Beruntung dia tidak jadi buta atau kehilangan bola mata," ujar Molly, seperti dilansir dari Mirror.
Kejadian buruk juga dialami Kelly Rose Joniec dari Texas, Amerika Serikat. Putrinya yang duduk di sekolah dasar tidak sengaja menelan bagian fidget spinner. Benda kecil itu menyangkut di tenggorokannya saat dia memasukkan ke mulut dengan maksud untuk membersihkannya.
Sementara seorang aktris Irlandia, Ayoola Smart juga mengalami hal buruk karena seorang bocah main fidget spinner yang tidak terkontrol. Saat berdiri di sebuah toko, seorang anak kecil bermain fidget spinner di dekatnya, anak itu kehilangan kendali mainannya hingga tidak sengaja memukul Smart di belakang telinganya hingga mengalami benturan keras. Â
Untuk membatasi efek buruk, dokter spesialis anak dan konsultan tumbuh kembang anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) RSCM, dr. Bernie Endyarni Medise, SpA(K) menyarankan agar orangtua atau orang dewasa memperhatikan durasi main fidget spinner. Jangan sampai main secara berlebihan dan asyik sendiri hingga membuat lupa untuk bersosialisasi.
Khusus untuk anak-anak usia balita, orangtua wajib memberikan perhatian lebih lantaran kejadian buruk seperti memasukkan mainan ke mulut atau tersedak bisa saja terjadi. Batas usia anak memainkan fidget spinner, menurut dia, sebaiknya di atas tiga tahun. Dan yang perlu perhatikan adalah cara memainkannya. Menggunakan jari dan diadu di media lain masih aman, namun jika dilempar bisa berpotensi melukai diri sendiri atau orang lain.
Setali tiga uang dengannya, Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, dr. Eni Gustina, MPH mengatakan, meski mainan itu tampaknya tidak membahayakan bila dimainkan dengan benar dan tepat, namun orangtua harus mengawasinya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan menimpa buah hatinya.