SOROT 461

Nyonya Meneer Tak Lagi Kuat Berdiri

Pabrik PT Nyonya Meneer yang terletak di Jalan Raya Kaligawe, Semarang, Jawa Tengah.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Dwi Royanto

Tingginya jumlah pesanan membuat Nyonya Meneer nyaris tak bisa keluar dari ruang kerjanya. Padahal, saat itu dia hanya menggunakan perabot atau alat biasa dan resep warisan orangtuanya.

img_title Rahmat Gobel Tak Selamatkan Nyonya Meneer dengan Akuisisi

Karena terus berkembang, akhirnya pada tahun 1919, Nyonya Meneer mendirikan perusahaan bernama  ‘Jamu Jawa Asli Cap Potret Nyonya Meneer’ di Semarang.  Pada 1967 Nyonya Meneer menjadi Direktur Utama di perusahaannya tersebut. Salah satu anaknya, Hans Ramana dipercaya untuk mengurus perusahaan. Sedangkan ketiga anak lainnya yakni Lucy Saerang, Marie Kalalo, dan Hans Pangemanan diangkat menjadi anggota dewan komisaris.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Toko Jamu logo Nyonya Meneer di Semarang.

img_title Utang Nyonya Meneer Membengkak Hingga Rp250 Miliar

Sebuah toko yang memasang logo jamu Nyonya Meneer di Semarang. (VIVA.co.id/Dwi Royanto)

Pada tahun 1970, persaingan dunia bisnis jamu semakin ketat dengan hadirnya sejumlah kompetitor. Rival Nyonya Meneer seperti PT Sido Muncul dan Air Mancur mulai menjual berbagai produk serupa dengan harga yang berbeda-beda.  Di tengah persaingan tersebut, pada 1976 Hans Ramana meninggal dunia di Honolulu akibat kanker. Enam bulan sebelum kematian Hans, Nyonya Meneer terkena stroke dan sulit bicara. 

img_title Pengacara Sebut Utang Nyonya Meneer ke Karyawan Rp98 Miliar

Saat itu, keluarga sepakat merahasiakan kematian Hans agar tak mengganggu kesehatan Nyonya Meneer. Namun, dua tahun kemudian, Nyonya Meneer menyusul putranya. Dia meninggal dalam kondisi tidak mengetahui anaknya telah meninggal dunia lebih awal. Hal ini menjadi pukulan keras bagi perusahaan. Pasalnya, dua orang yang paling diandalkan perusahaan meninggal lebih dulu. Akibatnya, perusahaan mulai goyah.

Sepeninggal Nyonya Meneer terjadi perseteruan di antara kelima cucu pewaris Nyonya Meneer yang melibatkan ratusan bahkan ribuan pekerja. Akhirnya, pada 1995 konflik berakhir dengan pelepasan saham anggota keluarga. Perusahaan sepenuhnya dipegang oleh cucu Nyonya Meneer yang bernama Charles Saerang. 

Selanjutnya, PT Nyonya Meneer di Tangan Charles Saerang

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

PT Nyonya Meneer di Tangan Charles Saerang

Ada mitos, bahwa dalam bisnis keluarga akan terjadi tiga fase. Generasi pertama melahirkan, generasi kedua membangun, dan generasi ketiga menghancurkan. Namun, hal tersebut tak berlaku bagi Charles Saerang. Penerus Nyonya Meneer Generasi ke-3 ini mengubah perusahaan keluarga yang tertutup menjadi lebih maju dan profesional. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut